Pesan Dakwah

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya” {HR. Muslim}

5 Kesusahan Ini Allah Berikan Sebagai Penghapus Dosa Manusia

Idealnya setiap manusia tentunya mendambakan kehidupan yang menyenangkan, penuh ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan. Tidak ada satu orang manusia pun yang ingin merasakan kesusahan di dalam hidupnya.
Akan tetapi tidak selamanya hal-hal yang menyenangkan akan terus terjadi dalam kehidupan manusia. Sebab ada kalanya manusia harus merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidupnya sebagai pembelajaran.

Bahkan diantara hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut, ada 5 kesusahan yang sengaja diberikan Allah SWT untuk menghapuskan dosa-dosa manusia. Oleh sebab itu kita harus bersabar dalam menghadapinya.Lalu apa sajakah 5 kesusahan tersebut ? Berikut ulasannya.
Dalam sebuah riwayat hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah menimpa seorang muslim kelelahan, sakit, kekhawatiran, gangguan, kesedihan dan duka, sampai pun duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah SWT akan menghapus dengannya dosa-dosanya." (Muttafaqun Alaih).
Allah berfirman :
وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ
الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.
(Al-Baqarah [2] : 45-46)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
(Al-Baqarah [2] : 153)

Rasululllah jika ditimpa masalah yang sulit juga selalu memohon pertolongan pada Allah dengan mengerjakan shalat , sebagaimana diriwayatkan dari Huzaifah ra , ia berkata: “Apabila Rasulullah saw menemui suatu kesulitan maka beliau selalu mengerjakan shalat”
(Ahmad, Abu Dawud-Durul Mantsur).
5 kesusahan yang diberikan Allah SWT untuk menghapus dosa-dosa manusia di masa lampau adalah :
1. Kelelahan
Kesusahan pertama yang diberikan Allah SWT kepada manusia adalah merasa lelah. Terlebih lagi ketika seseorang telah bekerja sekian lama tanpa istirahat. Tentunya ia akan merasakan kelelahan yang teramat sangat. Bahkan kelelahannya tersebut membuat ia sulit untuk melakukan kegiatan lainnya. 
Namun yakinlah, Allah SWT akan menghapuskan dosa-dosa di masa lampau apabila kita mampu bersabar menghadapi kelelahan yang melandanya. Bahkan setiap keringat yang dikeluarkan dalam hal-hal yang syar'i akan bernilai ibadah dimata Allah SWT.
2. Sakit
Kesusahan kedua yang diberikan Allah SWT kepada manusia adalah merasakan sakit. Hal ini merupakan hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan. Tidak ada satu manusiapun yang tidak pernah merasakan sakit. Bahkan rasa sakit yang Allah SWT berikan terasa begitu sangat menyiksakan. Sehingga apabila kita mampu bersabar dan tidak mengeluh atas penyakit tersebut, maka dosa-dosa yang kita lakukan akan digugurkan oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, ketiksa sakit maka bersabarlah sambil terus mencari penawarnya.
3. Kekhawatiran
Kesusahan selanjutnya yang diberikan Allah SWT adalah muncul rasa kekhawatiran. Kekhawatiran apabila tidak segera diatasi dengan baik, maka bisa berakibat fatal. Oleh sebab itu, serahkanlah segala urusan kepada Allah SWT. Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha dan berdoa, hasilnya biarlah Allah SWT yang akan menentukan. Dengan demikian, hati akan menjadi lebih tenang sebab apa yang Allah SWT berikan adalah yang terbaik bagi hamba-Nya.
4. Gangguan-gangguan
Kesusahan yang juga diberikan Allah SWT kepada manusia adalah munculnya gangguan-gangguan dalam kehidupan. Gangguan ini bisa datang dari berbagai sisi. Bahkan disaat kita melakukan hal yang baik sekalipun, selalu ada saja gangguan yang akan menghalang-halangi. Sehingga apabila kita mampu bersabar dan yakin, maka hal tersebut bisa teratasi. Selain itu, dosa-dosa pun berguguran.
5. Kesedihan
Kesulitan terakhir yang Allah SWT berikan kepada manusia untuk menghapuskan dosa-dosanya adalah berupa kesulitan. Tidak ada seorang pun yang tidak pernah merasakan kesedihan. Namun segala kesedihan dan duka yang menimpa seorang manusia melainkan sebuah ujian dari Allah SWT. 
Dalam hal ini kita hanya perlu menyikapinya dengan bijak dan penuh kesabaran. Dengan demikian, semoga segala dosa-dosa yang telah diperbuat akan dihapuskan oleh Allah SWT. 
Demikianlah 5 kesusahan yang diberikan Allah SWT untuk menghapuskan dosa-dosa manusia. Meskipun bukanlah hal yang menyenangkan, namun kita harus bisa bersabar dalam menghadapinya. Sebab hal ini merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya.

Semoga Allah SWT memberikan kesabaran bagi kita semua. Aamiin.

(dream.co.id)

Pengaruh Bacaan Al Qur'an Bagi Organ Tubuh Manusia

"Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Al-Qur'an...".

Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.

Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan.

Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.

Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang mendengarkannya.

Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. 

Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Al-Qur'an.

Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Al-Qur'an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur'an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Al-Qur'an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur'an.

Al-Qur'an memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur'an dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.

Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki Al-Qur'an. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Al-Qur'an lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Al-Qur'an memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).

Mahabenar Allah yang telah berfirman, "Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat" (Q.S. 7: 204).
http://misteriakhir-zaman.blogspot.com/2012/09/pengaruh-bacaan-al-qur-bagi-organ-tubuh.html

Dahsyatnya Doa Diantara Dua Sujud

Allah SWT tidak akan pernah menyuruh umatNya mengerjakan sesuatu yang tak memiliki makna, begitu juga dengan doa yang dibaca diantara dua sujud ketika seseorang sedang melaksanakan ibadah shalat. Bayangkan saja, shalat sendiri memiliki amat banyak fungsi untuk kesehatan tubuh dan mental, hal yang sama juga pasti dimiliki oleh bacaan yang harus dilafalkan ketika melakukan kegiatan shalat tersebut. Jika kita nilai sesuatu yang diperintahkan oleh Allah SWT tidak ada artinya, itu berarti kita tidak lagi percaya kepada hitungan yang sudah dilakukan Allah SWT terhadap makhluk-makhluk yang sudah memutuskan untuk menjadi umatNya.

(Baca : Doa untuk Melunasi Hutang yang Bertumpuk)
Jika ada pertanyaan doa apa yang paling sering dibaca oleh umat Islam, pasti akan banyak orang yang salah jawab, karena sesungguhnya doa terbanyak dibaca adalah doa antara dua sujud. Jika kita hanya melakukan shalat lima waktu, kita paling tidak sudah membaca doa tersebut sebanyak 17 kali setiap harinya. Itu hanyalah hitungan setiap harinya, dan jika kita kalikan seminggu saja maka kita paling tidak sudah membaca doa tersebut sebanyak 119 kali. Ulangi sebanyak 1 bulan, maka kita sudah membacanya sebanyak hampir 500 kali, tepatnya 476 kali. Bayangkan dengan doa-doa lain yang mungkin bahkan hanya kita panjatkan satu kali tiap harinya.
Apa yang Membuat Doa Diantara Dua Sujud Amat Istimewa?
Dahsyatnya doa diantara dua sujud mungkin sering terlewatkan oleh banyak umat Islam di dunia ini karena mereka terlalu sering membacanya hingga tidak tahu bahwa yang dibaca adalah sebuah doa yang manfaatnya akan diberikan kepada orang yang membacanya. Terlebih lagi dengan betapa seringnya doa ini dibacakan maka akan memberikan kemungkinan untuk dikabulkan jauh lebih besar dibandingkan doa-doa lainnya yang hanya dibaca hanya satu kali sehari. Adapula efek positif yang diberikan oleh doa ini, antara lain adalah sebagai berikut ini:

• Robighfirlii
Robighfirli bisa diartikan sebagai kita yang meminta kepada Allah SWT untuk mengampuni dosa-dosa yang dimiliki. Dosa merupakan beban hidup yang bisa menjadi penghalang kita masuk ke dalam surga milik Allah SWT.
• Warhamnii
Khasiat doa diantara dua sujud yang kedua adalah warhamnii bermakna meminta kasih sayang dari Allah.
• Wajburnii
Wajburnii menyatakan kita minta tolong kepada Allah SWT untuk menutup kekurangan yang kita miliki sebagai manusia.
• Warfa’ni
Bagian ini adalah bagian kita yang meminta bantuan Allah untuk meninggikan derajat kita agar tak ada manusia yang sanggup menghina.
• Warzuqni
Ini adalah permintaan akan rezeki dari Allah SWT.
• Wahdini
Ini adalah doa yang dipanjatkan ketika kita butuh petunjuk dan bimbingan mengenai hidup.
• Wa’afinii
Adalah doa peminta kesehatan.
• Wa’fuannii
Bagian terakhir adalah bagian yang menyempurnakan segalanya. Di sini kita meminta seluruh catatan negatif kita dihapuskan. Sungguh, betapa dahsyatnya doa diantara dua sujud.

Istimewanya Sholat Sunnah Fajar, Lebih Baik dari Dunia dan Seisinya

Allah SWT sudah menjanjikan pahala tersendiri dari tiap-tiap ibadah yang diperintahkan kepada Umat-Nya, baik itu yang wajib ataupun sunnah. Setiap perintah Ibadah merupakan  ladang nikmat dan pahala bagi umat yang mau menjalankannya. Allah SWT adalah Maha adil yang memerintahkan sebuah ibadah yang pasti dibalas dengan ganjaran ( pahala ). Tidak semata-mata ia memerintahkan sesuatu tanpa ada imbalannya, Allah pasti memberikan imbalan bagi Umat-Nya yang mau melaksanakan perintah dari-Nya.
Salah Ibadah sunnah yang diperintahkan adalah SHOLAH SUNNAH FAJAR. Sholat Sunnah Fajar yaitu dua rokaat sunnah yang dikerjakan pada waktu fajar/subuh setelah adzan subuh di kumandangkan, dan sebelum Iqomah. Shalat sunnah fajar adalah salah satu contoh ibadah sunnah yang memiliki pahala yang begitu besar bagi yang mau melakukan dan mengistiqomahka­nnya. Memang, shalat fajar ini merupakan salah satu shalat sunnah yang jarang sekali diamalkan oleh umat Muslim, meskipun hanya dilakukan dalam dua rakaat yang ringan.
Aisyah RA meriwayatkan dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Dua rakaat (sebelum) fajar (shalat subuh) lebih baik (nilainya) dari dunia dan seisinya." (HR. Muslim dan Tirmidzi).
Berdasarkan pada sabda Rasulullah SAW di atas, dapatkah kita bayangkan sebesar apa atau seperti apakah sebenarnya nilai dari shalat sunnah dua rakaat sebelum fajar tersebut? Sungguh Allah Maha Kaya lagi Maha Pemurah, dunia dan seisinya ini tidak ada apa-apanya dibandingkan pahala Sholat sunnah fajar tersebut.
Ummul Mukminin, Aisyah RA berkata, "Rasulullah SAW sangat menjaga shalat sunnah dua rakaat sebelum subuh bila dibandingkan dengan shalat sunnah lainnya."
Begitu besar dan mulianya keutamaan dan balasan pahala yang dijanjikan Allah SWT bagi orang-orang yang selalu menjalankan sekaligus mengistiqomahka­n shalat sunnah dua rakaat sebelum fajar, hingga Rasulullah SAW pun sangat menjaga shalat sunnah tersebut daripada shalat sunnah yang lainnya. Jika R osululloh SAW yang sudah dijanjikan masuk surga pun sangat menjaga sholat sunnah fajar, kenapa Kita yang pasti melakukan salah dan dosa tidak berusaha menjalankan dan mengistiqomahkan sholat sunnah fajar tersebut.
Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama setelah membaca Al-Fatihah, dan membaca surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua setelah membaca surat Al-Fatihah pada sholat sunnah fajar.
Adapun niat sholat sunnah fajar tersebut : " Usholli sunnatal fajri rok'ataini lillahi ta'aala " yang artinya " Saya niat sholat sunnah fajar dua rokaat karena Allah ta'ala "
Rasulullah SAW telah memberikan rahasia besar yang sangat menguntungkan bagi kita. Satu ibadah yang ringan dan mudah, namun dengan nilai dan pahala yang melebihi dunia dan isinya. Subhanallah.

Semoga Allah swt senantiasa memberikan kekuatan kepada kita semua untuk senantiasa mengistiqomahka­n shalat sunnah fajar dengan penuh keikhlasan. Semoga kita bisa menjalankan dan mengistiqomahkan.

(http://rudipurnomo86.blogspot.com/2013/07/inilah-keistimewaan-sholat-sunnah-fajar.html)

Lamaran Kerja Ditolak, Bukan Berarti Tak Berbakti

“Ayah dan ibu doakan engkau jadi seorang yang membanggakan bagi keluarga, nusa dan bangsa.” Pernahkah saudara mendapat doa ini dari orangtua? Terucap atau tidak, saya kira semua kita memahami harapan tersebut. Bahkan dapat terasa semakin mendayu-dayu doa itu, layaknya sedang syuting sinetron, ketika kita tidak lolos tes kerja. Apalagi kalau surat lamaran kerja kita selalu ditolak.

Saudaraku, petugas personalia itu ciptaan Allah SWT. Tidak usah membencinya saat saudara tidak diterima bekerja. Jangan dendam kepadanya, sekalipun surat lamaran saudara tidak dibaca dan langsung ditimbang di tempat jual-beli rongsokan. Dia cuma menandatangani atau menjual surat lamaran saja. Allah yang menentukan kita diterima atau ditolak.

Yakinlah bahwa Allah selalu memerhatikan. Terima dan senangi keputusan apa pun dari-Nya. Tidak boleh kecewa. Karena kita juga tidak kecewa dikaruniai kemampuan menyiapkan surat lamaran. Tetap tenang, walau sudah 40 tempat kita mengirim lamaran. Berkali-kali ditolak bukan berarti biodata kita itu sia-sia. Tapi semuanya sudah jadi amal. Dan Allah pasti punya rencana, tetaplah yakin kepada-Nya.

Demikian halnya kalau kita mengikuti tes CPNS. Sejak sebelum mengirim berkas, kita sudah harus terus ingat bila tes CPNS bukanlah ajang penentuan hidup dan mati. Cukup serahkan hidup dan mati kita hanya kepada Allah SWT. Bukan kepada kepala dinas, bupati, gubernur, presiden, ataupun sekjen PBB dan ketua negara adidaya.

Dengan begitu, pikiran, tenaga dan waktu kita tidak akan terkuras. Ringan saja ketika ditolak. Tidak akan ada istilah “harap-harap cemas” saat menanti pengumuman hasil ujian seleksi. Kita hanya berharap kepada Allah. Dan hanya takut kepada-Nya, seandai ada niat dan ikhtiar kita dalam melamar kerja yang tidak benar.

Termasuk kalau kita ditolak saat melamar pendamping hidup. Tidak perlu sedih. Bahkan kalau pernikahan kita tiba-tiba batal. Sama halnya jika kita tiba-tiba dipecat, walau baru sehari masuk kerja, dan orangtua pun belum pulang dari pasar membeli bahan-bahan untuk kenduri. Yakinlah Allah pasti punya maksud, dan kita harus rida kepada takdir-Nya.

Nah, kadang ketika lamaran kerja kita ditolak, apalagi kalau sudah berkali-kali, mendung mulai menyelimuti mata kita dalam melihat karir teman-teman seangkatan, maupun saudara di keluarga. Segala yang ada di depan mulai tampak kelam, merasa gagal jadi anak, dan merasa tidak berbakti kepada orangtua. Bangunan masa depan kita seolah-olah sudah dihempas dan porak-poranda oleh dingin dan kencangnya angin.

Saudaraku, apabila saudara sedang merasa demikian, maka tutuplah mata saudara. Dan fokuslah pada pendengaran. Mungkin saudara bisa mendengar tetesan air di genteng, karena mendung dan angin itu memang pertanda hari akan hujan. Atau mungkin saudara bisa mendengar suara azan magrib. Hari yang kelam karena memang sudah menjelang malam.

Maksud saya, mari kita dengarkan hati terdalam kita. Mari kita bertanya ke lubuk hati, benarkah ditolaknya lamaran itu berarti kita gagal berbakti kepada orangtua? Atau mungkinkah pekerjaan dan pasangan yang gagal dan batal tadi, sebetulnya hanyalah keinginan kita agar dihargai orang dan nafsu untuk berbangga-bangga? Dan kita membawa-bawa orangtua sebenarnya cuma sebagai bahan mendramatisir suasana saja.

Untuk apa kita mencari penghargaan makhluk? Sungguh tidak perlu. Apalagi berniat untuk berbangga-bangga, malah yang menanti kita adalah petaka. Bagusnya karir pekerjaan kita, sama sekali bukan patokan dalam berbakti kepada orangtua. Menarik dan tingginya pendidikan pendamping hidup, bukan jaminan orangtua kita bahagia di masa tuanya, dan tidak dapat menjamin keduanya masuk surga.

Saudaraku, ingatlah sabda Rasulullah saw, “Saat anak-anak Adam meninggal dunia, seluruh amalnya terputus, kecuali sedekah yang bersinambung, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh yang mendoakannya.” Rasulullah tidak menyebutkan doa dari anak yang karirnya bagus, mobil dan rumahnya banyak, serta pasangannya menarik dan berpendidikan. Tapi doa dari anak yang saleh.

Jadi, kita berbakti kepada orangtua itu sudah cukup dengan menjadi anak yang saleh. Sama sekali tidak ada gunanya bagi kedua orangtua, sekalipun karir anaknya tinggi menjulang dan hartanya melimpah-ruah, tetapi hidupnya tidak mengenal dan mendekat kepada Allah. Hanya tinggal menanti waktu datangnya bencana.

Benar memang, kadang cinta orangtua pada anaknya, bisa membuat keduanya sangat berharap agar kita menjadi anak paling pintar di kelas, selalu juara pertama dalam lomba panjat pinang, setelah besar bekerja di perusahaan ternama, menikah dengan seseorang dari keluarga terpandang, serta memiliki rumah megah dan mobil mewah.

Ketika pandangan hidup orangtua kita sudah begini, maka, sebagai anak yang saleh, tugas kita untuk mengingatkan keduanya dengan penuh cinta pula. Kita sampaikan secara baik-baik kepada keduanya bahwa Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. al-Munfiqn [63]: 9).

Kita berdoa kepada Allah SWT supaya mereka tidak dilalaikan dunia. Kita ajak mereka mempelajari al-Quran bersama. Membaca ayat-ayat yang mengecam manusia yang sibuk berlomba-lomba dan membangga-banggakan harta dan anak. Berbeda kalau kita sendiri tidak saleh, justru kita akan saling memotivasi untuk hidup bermegah-megahan, sehingga kita sama-sama berlari dan saling menjerumuskan ke dalam petaka.

Saudaraku, tidak perlu bersedih. Berkali-kali lamaran ditolak, bukan tanda akhir kehidupan. Tapi justru itu bisa menjadi awal merekahnya perjalanan, dengan hikmah-hikmah yang didapatkan. Kita tidak boleh berputus asa dalam berikhtiar. Dan pastinya, kita harus berbakti kepada orangtua dengan menjadi anak yang saleh. Terus-menerus belajar, mengenal dan mendekat kepada Allah SWT.

Mari wujudkan bakti kita kepada orangtua dengan selalu berbuat baik kepada keduanya, dengan penuh cinta dan kasih sayang. Dan mari kita berdoa untuk keduanya, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku di waktu kecil.” (QS. al-Isr’ [17]: 24). Semoga di akhirat nanti kita dapat dikumpulkan kembali, dan berbahagia bersama di sana.

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 
(site.inilah.com)

Larangan Mencabut Uban yang Akan Menjadi Cahaya di Hari Kiamat

Image Mencabut Uban by Google
Sesungguhnya telah Allah SWT ciptakan segala sesuatunya itu tidak sia-sia. Islam agama yang sempurna ini telah mengajarkan kepada kita segala sesuatunya dengan lengkap. Begitu pula dengan masalah rambut uban atau rambut putih.

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)

Mengenai uban ini Abdullah bin Amru ra berkata, Rasulullah saw melarang mencabut uban dengan sabda beliau ’Itu adalah cahaya seorang mukmin’. (Shohih Ibnu Majah 2998 dan al-Misykat 4458)

Maka soal uban, Rasulullah menegaskan, “Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban, walau hanya sehelai, kecuali setiap ubannya akan dihitung sebagai kebaikan yang akan meninggikan derajatnya”. (Shahihul Jami’). 

Rasulullah saw juga bersabda,”Janganlah kalian mencabut uban, tidaklah seorang muslim beruban ketika memeluk agama Islam, kecuali akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat, dan akan ditulis karenanya satu kebaikan, serta dihapus dengannya satu kesalahan.” (Shohih Abi Dawud 3539 dan Ibnu Majah 3721)

Ibnu Abbas menafsirkan firman Allah,”…. Dan datanglah kepada kalian pemberian peringatan…” (QS.Fathir [35]:37) yang dimaksud disini adalah uban, semakin banyak umur seseorang maka semakin banyak pula ubannya dan semakin dekat pula dengan kematian.

Saikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang permasalahan ini, beliau berkata,”Adapun mencabut uban yang tumbuh di janggut dan bulu wajah adalah haram, karena ini termasuk kategori namsh (mencabut uban). Karena maksud dari namsh adalah mencabut bulu wajah dan janggut. Padahal tersebut dalam sebuah hadist dari Nabi saw, bahwa beliau melaknat perempuan yang mencabut ubannya. Sedangkan mencabut uban yang tumbuh dikepala hukumnya tidak sampai pada tingkatan haram, karena tidak termasuk kategori namsh” (al-Fatawa IV:123)

Menurut hadis, manusia yang pertama kali melihat uban di kepala adalah Nabi Ibrahim. Ketika itu, Nabi Ibrahim lantas bertanya kepada Allah, “Ya Rabbi, apakah ini?” Allah menjawab, “Ini adalah kemuliaan dan kelembutan wahai Ibrahim”. Jelaslah, uban bukan aib atau keburukan.

Rasulullah sendiri beruban. Diriwayatkan, Abu Bakar bertanya kenapa rambut beliau begitu lekas beruban. Rasulullah menjawab, “Surat Hud, Al-Waqiah, Al-Mursalat, An-Naba, dan At-Takwir, itulah yang menyebabkan rambutku lekas putih”.

Rasulullah ngeri dengan surat-surat itu karena banyak bercerita tentang kedahsyatan kiamat dan balasan atas keingkaran umat-umat terdahulu. Rasulullah amat takut sekiranya yang menerima ayat-ayat azab itu adalah umat beliau sendiri, yaitu kita.

Baca juga profil wanita muda cantik segudang prestasi :

Ilmu Yang Bermanfaat, Pahala Amalannya Tidak akan Putus Walaupun Meninggal Dunia

Image Ilmu bermanfaat by Google
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Allah Ta’ala berfirman, "Mereka hanya mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.” [Ar-Ruum: 7]

Karena itulah As-Sunnah membagi ilmu menjadi ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat, juga menganjurkan untuk berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat dan memohon kepada Allah Ta’ala ilmu yang bermanfaat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H) rahimahullaah mengatakan, “Ilmu adalah apa yang dibangun di atas dalil, dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang ada ilmu yang tidak berasal dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tetapi dalam urusan duniawi, seperti ilmu kedokteran, ilmu hitung, ilmu pertanian, dan ilmu perdagangan.”

Imam Ibnu Rajab (wafat th. 795 H) rahimahullaah mengatakan, “Ilmu yang bermanfaat menunjukkan pada dua hal.

Pertama, mengenal Allah Ta’ala dan segala apa yang menjadi hak-Nya berupa nama-nama yang indah, sifat-sifat yang mulia, dan perbuatan-perbuatan yang agung. Hal ini mengharuskan adanya pengagungan, rasa takut, cinta, harap, dan tawakkal kepada Allah serta ridha terhadap takdir dan sabar atas segala musibah yang Allah Ta’ala berikan.

Kedua, mengetahui segala apa yang diridhai dan dicintai Allah ‘Azza wa Jalla dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya berupa keyakinan, perbuatan yang lahir dan bathin serta ucapan. Hal ini mengharuskan orang yang mengetahuinya untuk bersegera melakukan segala apa yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya. Apabila ilmu itu menghasilkan hal ini bagi pemiliknya, maka inilah ilmu yang bermanfaat. Kapan saja ilmu itu bermanfaat dan menancap di dalam hati, maka sungguh, hati itu akan merasa khusyu’, takut, tunduk, mencintai dan mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla, jiwa merasa cukup dan puas dengan sedikit yang halal dari dunia dan merasa kenyang dengannya sehingga hal itu menjadikannya qana’ah dan zuhud di dunia.”

Imam Mujahid bin Jabr (wafat th. 104 H) rahimahullaah mengatakan, “Orang yang faqih adalah orang yang takut kepada Allah Ta’ala meskipun ilmunya sedikit. Dan orang yang bodoh adalah orang yang berbuat durhaka kepada Allah Ta’ala meskipun ilmunya banyak.”

Perkataan beliau rahimahullaah menunjukkan bahwa ada orang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya, namun ilmu tersebut tidak bermanfaat bagi orang tersebut karena tidak membawanya kepada ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Imam Ibnu Rajab (wafat th. 795 H) rahimahullaah mengatakan, “Ilmu yang paling utama adalah ilmu tafsir Al-Qur-an, penjelasan makna hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan pembahasan tentang masalah halal dan haram yang diriwayatkan dari para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan para imam terkemuka yang mengikuti jejak mereka...”

Imam al-Auza’i (wafat th. 157 H) rahimahullaah berkata, “Ilmu itu apa yang dibawa dari para Shahabat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, adapun yang datang dari selain mereka bukanlah ilmu.”

Beliau juga mengatakan, “Ilmu yang paling utama adalah ilmu tafsir Al-Qur-an, penjelasan makna hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan pembahasan tentang masalah halal dan haram yang diriwayatkan dari para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan para imam terkemuka yang mengikuti jejak mereka...”

Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullaah mengatakan, Seluruh ilmu selain Al-Qur-an hanyalah menyibukkan, kecuali ilmu hadits dan fiqih dalam rangka mendalami ilmu agama.

Ilmu adalah yang tercantum di dalamnya: ‘Qaalaa, haddatsanaa (telah menyampaikan hadits kepada kami)’.

Adapun selain itu hanyalah waswas (bisikan) syaitan.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan kepada kita mengenai orang yang faham tentang agama Allah Ta’ala, ia memperoleh manfaat dari ilmunya dan memberikan manfaat kepada orang lain. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan perumpamaan orang yang tidak menaruh perhatian pada ilmu agama, dengan kelalaiannya itu mereka menjadi orang yang merugi dan bangkrut.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya laksana hujan deras yang menimpa tanah. Di antara tanah itu ada yang subur. Ia menerima air lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah kering yang menyimpan air. Lalu Allah memberi manusia manfaat darinya sehingga mereka meminumnya, mengairi tanaman, dan berladang dengannya. Hujan itu juga mengenai jenis (tanah yang) lain yaitu yang tandus, yang tidak menyimpan air, tidak pula menumbuhkan tanaman. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah, lalu ia mendapat manfaat dari apa yang Allah mengutus aku dengannya. Juga perumpamaan atas orang yang tidak menaruh perhatian terhadapnya. Ia tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus.”

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika datang membawa ajaran agama Islam, beliau mengumpamakannya dengan hujan yang dibutuhkan manusia. Kondisi manusia sebelum diutusnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam seperti tanah yang kering, gersang dan tandus. Kemudian kedatangan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam membawa ilmu yang bermanfaat menghidupkan hati-hati yang mati sebagaimana hujan menghidupkan tanah-tanah yang mati.

Kemudian beliau mengumpamakan orang yang mendengarkan ilmu agama dengan berbagai tanah yang terkena air hujan, di antara mereka adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya. Orang ini seperti tanah subur yang menyerap air sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya, kemudian tanah tersebut dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat memberi manfaat bagi yang lain.

Di antara mereka ada juga orang yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu namun dia tidak mengamalkannya, akan tetapi dia mengajarkannya untuk orang lain. Maka, dia bagaikan tanah yang tergenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya. Orang inilah yang disebut dalam sabda beliau, “Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataan-perkataanku dan dia mengajarkannya seperti yang dia dengar.” Di antara mereka ada juga yang mendengar ilmu namun tidak menghafal/menjaganya serta tidak menyampaikannya kepada orang lain, maka perumpamaannya seperti tanah yang berair atau tanah yang gersang yang tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yang ada di sekelilingnya.

Dikumpulkannya perumpamaan bagian pertama dan kedua disebabkan keduanya sama-sama bermanfaat. Sedangkan dipisahkannya bagian ketiga disebabkan tercela dan tidak bermanfaat.

Jadi, perumpamaan hadits di atas terdiri dari 2 (dua) kelompok. Perumpamaan pertama telah dijelaskan sebelumnya. Sedangkan perumpamaan kedua, bagian pertamanya adalah orang yang masuk agama Islam namun tidak mengamalkan dan tidak mengajarkannya. Kelompok ini diumpamakan dengan tanah tandus sebagaimana yang diisyaratkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Orang yang tidak menaruh perhatian terhadapnya.” Atau dia berpaling dari ilmu sehingga dia tidak bisa memanfaatkannya dan tidak pula dapat memberi manfaat kepada orang lain.

Adapun bagian kedua adalah orang yang sama sekali tidak memeluk agama, bahkan telah disampaikan kepadanya pengetahuan tentang agama Islam, tetapi ia mengingkari dan kufur kepadanya. Kelompok ini diumpamakan dengan tanah datar yang keras, dimana air mengalir di atasnya, tetapi tidak dapat memanfaatkannya.

Hal ini diisyaratkan dengan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
"Dan tidak peduli dengan petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.”

Ath-Thibi berkata, “Manusia terbagi menjadi dua".
Pertama, manusia yang memanfaatkan ilmu untuk dirinya namun tidak mengajarkannya kepada orang lain.

Kedua, manusia yang tidak memanfaatkan ilmu bagi dirinya, namun ia mengajarkan kepada orang lain.”

Menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalani, kategori pertama masuk dalam kelompok pertama. Sebab, secara umum manfaatnya ada walaupun tingkatannya berbeda. Begitu juga dengan tanaman yang tumbuh, di antaranya ada yang subur dan memberi manfaat kepada manusia dan ada juga yang kering. Adapun kategori kedua walaupun dia mengerjakan hal-hal yang wajib dan meninggalkan yang sunnah, sebenarnya dia termasuk kelompok kedua seperti yang telah kami jelaskan dan seandainya dia meninggalkan hal-hal wajib, maka dia adalah orang fasik dan kita tidak boleh mengambil ilmu darinya.

Orang semacam ini termasuk dalam sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Orang yang tidak menaruh perhatian terhadapnya.”

Hijrah Dijalan Allah untuk Mengharapkan Rahmat dan Derajat yang Tinggi Disisi Allah

Image Hijrah by Google
Dalam Surah At-Taubah Ayat: (20-22)
(20) orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
(21) Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padaNya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal,
(22) mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Surat Al-Baqarah ayat: (218) " Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. "

Pengertian Hijrah
Pindahnya Nabi Muhammad SAW bersama shahabatnya dari Makkah ke Madinah hal itu terjadi 1.427 tahun yang lalu, Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah.

Nabi Muhammad SAW bersabda :
Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu dianggap baik oleh Allah dan Rasul-Nya, tetapi ada juga golongan yang kedua karena menyelamatkan harta dunianya, maka sampai disitulah dia dan ada lagi yang ketiga barangsiapa yang hijrahnya karena menyelamatkan perempuannya, maka dikawin itu perempuan, sampai situ pula lah dia.

Hadits tesebut menggambarkan 3 (tiga) macam kelompok manusia yang berhijrah bersama Nabi Muhammad SAW ketika itu. Tentunya yang terbaik adalah golongan yang pertama, kenapa? Karena yang kedua dan ketiga itu merupakan urusan dunia sehingga manusia banyak yang melupakan Allah dan Rasulnya. Mungkin ilustrasi itu tidak akan jauh dari berbagai macam manusia sekarang ini. Kemudian bagaimanakah sikap kita selanjutnya? Kita tinggal memilih karena Allah dan Rasul-Nya atau karena dunia.

hijrah dalam arti luas. Hal tersebut hampir mencakup seluruh perikehidupan manusia di alam dunia yang fana ini. Ialah perubahan dari sesuatu keadaan kepada keadaan yang lain atau kepada keadaan yang lebih baik. Berhijrah di jalan Allah, karena mereka mengharapkan ridlo Allah dan karena mereka yakin bahwa Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.



Mudah-mudah dengan berhijrah merupakan titik tolak dari kesuksesan kita.

Beriman Serta Berilmu Akan Meningkatkan Derajat Kita

Image Ilmu by Google
Beriman Serta Berilmu akan Meningkatkan derajat kita, Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan diberikan ilmu di antara kalian beberapa derajat.

Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al Mujadilah [58] : 11). Al Hafizh menjelaskan, “Ada yang mengatakan tentang tafsirannya adalah : Allah akan mengangkat kedudukan orang beriman yang berilmu dibandingkan orang beriman yang tidak berilmu.

Dan pengangkatan derajat ini menunjukkan adanya sebuah keutamaan…” (Fathul Bari, 1/172). Beliau juga meriwayatkan sebuah ucapan Zaid bin Aslam mengenai ayat yang artinya, “Kami akan mengangkat derajat orang yang Kami kehendaki.” (QS. Yusuf [12] : 76). Zaid mengatakan, “Yaitu dengan sebab ilmu.” (Fathul Bari, 1/172).
  • Ibnu Katsir menyebutkan di dalam tafsirnya sebuah riwayat dari Abu Thufail Amir bin Watsilah yang menceritakan bahwa Nafi’ bin Abdul Harits pernah bertemu dengan Umar bin Khattab di ‘Isfan (nama sebuah tempat, pen). Ketika itu Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Umar pun berkata kepadanya, “Siapakah orang yang kamu serahi urusan untuk memimpin penduduk lembah itu?”. Dia mengatakan, “Orang yang saya angkat sebagai pemimpin mereka adalah Ibnu Abza; salah seorang bekas budak kami.” Maka Umar mengatakan, “Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?”. Dia pun menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dia adalah orang yang pandai memahami Kitabullah, mendalami ilmu waris, dan juga seorang hakim.”
    Umar radhiyallahu’anhu menimpali ucapannya, “Adapun Nabi kalian, sesungguhnya dia memang pernah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sekelompok orang dengan sebab Kitab ini, dan akan merendahkan sebagian lainnya karena kitab ini pula.’ (HR. Muslim).

  • Nabi diperintahkan untuk berdoa untuk mendapatkan tambahan ilmu Di dalam Kitabul Ilmi Bukhari membawakan sebuah ayat yang artinya, “Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha [20] : 114). Kemudian Al Hafizh menjelaskan, “Ucapan beliau : Firman-Nya ‘azza wa jalla, ‘Wahai Rabbku tambahkanlah kepadaku ilmu’. Memiliki penunjukan yang sangat jelas terhadap keutamaan ilmu. Sebab Allah ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan untuk apapun kecuali tambahan ilmu.

    Sedangkan yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i yang dengan ilmu itu akan diketahui kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang mukallaf untuk menjalankan ajaran agamanya dalam hal ibadah ataupun muamalahnya, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, dan hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, menyucikan-Nya dari segenap sifat tercela dan kekurangan. Dan poros semua ilmu tersebut ada pada ilmu tafsir, hadits dan fiqih…” (Fathul Bari, 1/172). Ketiga : Perintah bertanya kepada ahli ilmu Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci memerintahkan untuk bertanya kepada mereka (ahli ilmu) dan merujuk kepada pendapat-pendapat mereka. Allah juga menjadikannya sebagaimana layaknya persaksian dari mereka. Allah berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu kecuali para lelaki yang Kami wahyukan kepada mereka : bertanyalah kepada ahli dzikir apabila kalian tidak mempunyai ilmu.’ (QS. An Nahl [16] : 43). Sehingga makna ahli dzikir adalah ahli ilmu yang memahami wahyu yang diturunkan Allah kepada para nabi.” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 24).

  • Kebenaran akan tampak bagi ahli ilmu Ibnul Qayyim mengatakan, “Allah Yang Maha Suci memberitakan mengenai keadaan orang-orang yang berilmu; bahwa merekalah orang-orang yang bisa memandang bahwa wahyu yang diturunkan kepada Nabi dari Rabbnya adalah sebuah kebenaran. Allah menjadikan hal ini sebagai pujian atas mereka dan permintaan persaksian untuk mereka. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang diberikan ilmu bisa melihat bahwa wahyu yang diturunkan dari Rabbmu itulah yang benar.” (QS. Saba’ [34] : 6).” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 24).

  • Segala sifat terpuji bersumber dari ilmu Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya seluruh sifat yang menyebabkan hamba dipuji oleh Allah di dalam Al Qur’an maka itu semua merupakan buah dan hasil dari ilmu. Dan seluruh celaan yang disebutkan oleh-Nya maka itu semua bersumber dari kebodohan dan akibat darinya…” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 128). 
  • Beliau juga menegaskan, “Dan tidaklah diragukan bahwasanya kebodohan adalah pokok seluruh kerusakan. Dan semua bahaya yang menimpa manusia di dunia dan di akhirat maka itu adalah akibat dari kebodohan…” (Al ‘Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 101). Kebahagiaan ilmu Ibnul Qayyim mengatakan, “Adapun kebahagiaan ilmu, maka hal itu tidak dapat kamu rasakan kecuali dengan cara mengerahkan segenap kemampuan).

Sholat Tahajjud Salah Satu Jalan Menaikan Derajat Di Dunia dan Akherat

Image Tahajjud by Google
"Di malam hari hendaklah engkau shalat Tahajjud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahanan Allah mengangkat engkau ketempat yang terpuji." [Al Qur'an Surat Al-Israa Ayat ke 79].

Ayat ini menegaskan bahwa keheningan malam merupakan waktu yang tepat dan istimewa untuk berdialog dan bermunajat kepada Allah,yaitu mendirikan sholat tahajjud. Sholat tahajjud diberikan oleh Allah SWT sebagai bonus yang luar biasa.

Allah SWT juga berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang mendirikan sholat tahajjud menuju kedudukan yang tinggi dan terpuji. Tentu tidak hanya di dunia,namun juga di akhirat. Tidak hanya terpuji perilaku nya saja ,tetapi juga seluruh aspek kehidupan seperti karier, ekonomi, rumah tangga dan keberkahan hidup.

Disebutkan dalam Hadist Nabi, dari Abu Hurairah RA,dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda : " Allah setiap malam turun ke langit dunia sampai lewat sepertiga malam yang pertama ". Dia berfirman " Aku Raja, Akulah Raja. Barang siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku mengabulkannya, barang siapa yang meminta kepada-Ku maka akan memberinya barang siapa yang memohon kepada-Ku maka Aku mengampuninya " Dan senantiasa demikian sampai fajar bersinar “ (HR. Muslim).

Bacalah Kitab Suci Al-Quran Agar Derajat Kita Terangkat

Image Al-Quran by Google
Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang selalu membaca Alquran, mempelajari isi kandungannya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab Alquran dan Allah merendahkan kaum yang lainnya (yang tidak mau membaca, mempelajari dan mengamalkan Alquran).” (HR Bukhari)
Back to top