Pesan Dakwah

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya” {HR. Muslim}

Ayo Ikut Riba Amnesty ! Agar Hidup Lebih Berkah

Apa itu Riba Amnesty ?
Riba Amnesty adalah upaya memperoleh ampunan dari Allah SWT dengan cara bertaubat, berhijrah dan meninggalkan riba, merujuk pada Q.S Al Baqarah : 278-279

Berlaku Untuk Siapa Riba Amnesty ?
Wajib bagi mereka yang beriman dan semua orang yang mencintai kebaikan untuk dirinya, keluarga, dan masyarakat

Mengapa Harus Mengikuti Riba Amnesty ?

  • Riba itu tidak menambah harta di sisi Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat (Q.S Ar Rum : 39).
  • Allah SWT menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba serta bagi orang yang beriman .diperintahkan untuk meninggalkan sisa riba (Q.S Al Baqarah 275 & 278).
  • Allah SWT dan Rasul akan memerangi pelaku riba (Q.S Al Baqarah 279).
  • Manusia tidak ada yang tahu kapan meninggal, maka berbuat baik tidak boleh ditunda.
  • Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri maka mereka (penghuninya) sudah menghalalkan atas mereka sendiri siksaan Allah. (HR. Ath-Thabrani dan Al Hakim)
  • Akan datang satu masa dimana tiada seorangpun yang tidak makan uang riba. Kalau tidak ribanya maka ia akan terkena asapnya (atau debunya). (HR. Abu Dawud)
  • Kalau kamu melakukan perdagangan dengan riba, hanya menjadi peternak-peternak dan senang hanya dengan bertani saja dan meninggalkan jihad (perjuangan) maka Allah akan menimpakan kehinaan atasmu. Kamu tidak dapat mencabut kehinaan itu sehingga kamu kembali kepada Ad Dienmu. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
  • Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Jauhilah olehmu semua akan tujuh hal yang merusak." Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, apakah tujuh macam hal yang merusak itu?" Beliau s.a.w. bersabda: "Yaitu menyekutukan sesuatu dengan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, melainkan dengan dasar kebenaran -menurut ketentuan-ketentuan Agama Islam-, makan harta riba, makan harta anak yatim, mundur ke belakang di saat berkecamuknya peperangan serta mendakwa zina kepada wanita mu'min yang telah bersuami." (Muttafaq 'alaih)
  • Aisyah r.a. berkata, "Ketika diturunkan ayat-ayat [terakhir, 3/11] dari surah al-Baqarah tentang riba, Nabi Muhammad saw keluar ke masjid. Beliau lalu membacakannya kepada orang-orang dan beliau mengharamkan berdagang khamr"
  • Jabir Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, penulisnya, dan dua orang saksinya. Beliau bersabda: "Mereka itu sama." (HR. Muslim).
  • Dari Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Riba itu mempunyai 73 pintu, yang paling ringan ialah seperti seorang laki-laki menikahi ibunya dan riba yang paling berat ialah merusak kehormatan seorang muslim." Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan ringkas dan Hakim dengan lengkap, dan menurutnya hadits itu shahih.
  • Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "(Diperbolehkan menjual) emas dengan emas yang sama timbangannya dan sama sebanding, dan perak dengan perak yang sama timbangannya dan sama sebanding. Barangsiapa menambah atau meminta tambahan maka itu riba." (HR. Muslim).
  • Dari Abu Umamah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa memberi syafa'at (menjadi perantara untuk suatu kebaikan) kepada saudaranya, lalu ia diberi hadiah dan diterimanya, maka ia telah mendatangi sebuah pintu besar dari pintu-pintu riba." (HR. Ahmad dan Abu Dawud) dan dalam sanadnya ada pembicaraan.
Bagaimana Mendapatkan Riba Amnesty ?
  • Berhenti (iqla') dari praktek riba
  • Menyesali (nadam) atas praktek riba yang pernah dilakukan 
  • Betekad ('azam) untuk tidak melakukan riba lagi
  • Berhenti dari riba dan menggunakan sistem yang non riba
Bagaimana Metode Riba Amnesty ?
TAUBAT - HIJRAH - TAWAKAL
  • TAUBAT - Memohon ampun kepada Allah SWT
  • HIJRAH - Memilih untuk mengelola keuangan  berdasarkan prinsip syariah
  • TAWAKAL - Berserah diri kepada Allah SWT dengan meninggalkan sisa riba
Apakah Manfaat Riba Amnesty ?
  • Rizky Lebih Berkah dan diganti yang lebih baik (HR Ahmad)
  • Menjadi Gaya Hidup yang lebih tentram dan hasanah dengan melepaskan riba dari kehidupan duniawi
  • Masyarakat terhindar dari riba dengan menjalankan aktivitas bisnis secara lebih adil dan transparan
  • Percepatan pertumbuhan ekonomi syariah melalui produk dan layanan yang kompetitif
Bagaimana Memanfaatkan Riba Amnesty ?
  • Hijrah Hasanah, berhijrah antara lain dengan menghubungi bank-bank syariah sebagai penerima Riba Amnesty dan percayakan transaksi keuangan anda ke Bank Syariah.
  • Nikmati Kenyaman Hasanah, Nikmati berbagai fasilitas layanan keuangan modern yang disajikan dalam produk keuangan sesuai syariah.

http://www.infosyariah.com/2016/10/ayo-ikut-riba-amnesty.html
http://firmanlover.blogspot.co.id/2014/09/al-quran-tentang-menjauhi-riba.html

Puasa Mata, Jangan Mengobral Pandangan

Saudaraku. Umpama memasukkan seekor ayam liar ke dalam kamar, pasti susah mengeluarkannya. Kemungkinannya kita mendadak mengubah kamar menjadi medan perang. Sehingga si ayam bisa naik ke atas tempat tidur, lemari atau meja, dan barang-barang pun berantakan. Belum lagi ditambah rontokan bulu dan kotoran yang ayam itu hadiahkan. Bahkan, si ayam juga bisa naik ke atas kepala kita, lalu kepala kita dipatuknya pula.

Kamar yang terpecah-belah dalam pertempuran melawan si ayam, itu penyebabnya cuma satu, yaitu kita sendiri yang membuka pintu sehingga ayamnya masuk. Demikian perumpamaan mata kita. Bahwa kekacauan kamar adalah kekacauan pikiran dan nafsu kita akibat tidak bisa menjaga pandangan.

Oleh sebab itu, saudaraku, jangan mencari penyakit! Kalau tidak menjaga pandangan, hanya dalam waktu sepuluh detik otak langsung bekerja dan mengeluarkan hormon-hormon tertentu. Sehingga hati menjadi gelisah, nafsu jadi membara. Dari mata turun ke hati, dari hati turun ke lutut, dan lutut pun gemetaran mau copot.

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan menjaga kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat dari pandangannya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), ...(QS. an-Nr [24]: 30-31)

Mari kita jaga pandangan (ghodhol bashor) supaya hati lebih aman. Jangan mengobral pandangan! Misalkan di kelas ada guru ganteng atau cantik, lalu mata menjadi fokus. Biasanya akan beralasan, Kan saya lagi belajar, Aa. Padahal, pulang dari sekolah berkunang-kunang. Begitu juga di kantor maupun pasar, Aa, saya terpaksa karena di tempat kerja. Saya kirasemacam intel perusahaan kosmetik juga tidak akan melirik orang yang menarik hingga di ujung jalan.

Atau, misalnya saat melihat status atau potret seseorang yang cantik di media sosial, lalu di-save (disimpan). Padahal itu istri orang. Tidak boleh, saudaraku. Termasuk yang kinclong-kinclong di acara-acara televisi beserta iklan-iklannya. Percayalah! Kalau tidak menahan pandangan, pikiran dan hidup kita tidak bisa tenang.

Saya mohon maaf sebelumnya karena akan menceritakan sebuah kisah, yang mungkin saudara juga sudah pernah mendengarnya. Suatu ketika ada yang datang menemui seorang syeh. Dia berkata, Syeh, saya punya masalah yang sangat berat. Masalah apa? jawab syeh, Tolong ceritakan, semoga ada yang bisa saya bantu.

Begini, syeh. Sebelum saya melamar calon istri saya dulu, yang saya rasakan calon saya inilah yang paling rupawan. Ngga ada bandingannya. Tapi, sesudah saya lamar, mengapa rasanya jadi banyak yang rupawan? Kemudian setelah menikah, kok jadi lebih banyak lagi yang rupawan dibanding istri saya. Dan sesudah beberapa tahun menikah, ternyata semuanya rupawan kecuali istri saya. Saya pusing, syeh!

Lalu syeh berkata, Tahukah engkau, mengapa engkau jadi begini? Sebetulnya bukan disebabkan wajah istrimu, tetapi karena engkau sendiri yang tidak bisa menahan pandangan. Sekali pun engkau menikahi semua perempuantercantik, suatu saat ada anjing betina lewat juga akan engkau rasakan lebih cantik dari istrimu. Masalahnya bukan pada wajah istrimu, tapi engkau sendiri yang tidak bisa menahan pandangan, pegang itu baik-baik!

Nah, bagi lelaki, kalau tidak bisa menahan pandangan pasti pusing. Mungkin ada pembaca yang bertanya, Lalu, bagaimana dengan yang perempuan?

Bagi pembaca yang perempuan bisa menjawab secara jujur pada diri sendiri. Misal, apa saat melihat lelaki berpenampilan menarik akan menggetarkan? Mungkin ada pembaca yang berkata, Saya biasa saja kok, Aa. Mungkin benar, karena yang berkata begini sepertinya sudah nenek-nenek.

Tetapi lelaki tidak perlu memaksakan jawaban yang perempuan supaya sesuai keinginan. Sebab yang lelaki sudah punya rujukan di dalam al-Quran. Yaitu tentang pertemuan Nabi Yusuf dan Siti Zulaikha (QS. Ysuf [12]: 21-53).

Bahwa Nabi Yusuf AS ganteng, dan Siti Zulaikha pun cantik. Tapi Nabi Yusuf menjaga pandangan sehingga hatinya tenang. Sedangkan Zulaikha tidak bisa menjaga pandangan kepada Nabi Yusuf. Sampai baju Nabi Yusuf robek di bagian belakang, akibat dikejar Zulaikha.

Lalu,tersebarlah gosip di antara ibu-ibu di sana, bahwa Siti Zulaikha yang sudah punya suami masih juga mengejar lelaki lain. Istri al-Aziz (Siti Zulaikha) menggoda dan merayu pelayannya (Nabi Yusuf) untuk menundukkan dirinya, pelayannya benar-benar membuatnya mabuk cinta. Sungguh, kami pasti memandang dia (Siti Zulaikha) dalam kesesatan yang nyata.

Siti Zulaikha yang mendengar cercaan pun mengumpulkan ibu-ibu gosip itu. Tiap-tiap mereka diberi sebuah pisau untuk memotong aneka jamuan. Lalu,Siti Zulaikha memanggil Nabi Yusuf,Keluarlah, tampakkan dirimu kepada mereka!

Ketika para ibu gosip itu melihat Nabi Yusuf, Haaa.... Mereka semuanya sangat terpesona kepada Nabi Yusuf, dan secara tidak sadar memotong jari tangan mereka sendiri. Seraya berkata,Mahasempurna Allah, ini bukanlah manusia! Sesungguhnya ini tidak lain adalah malaikat yang mulia.

Saudaraku. Intinya, kalau kita mau hidup tenang dan selamat, maka jangan mengobral pandangan. Dan Ramadan ini mulai kita latih menjaga mata. Kita saum (tahan) pandangan tanpa banyak beralasan lagi.

Misalnya, hindari kegiatan-kegiatan memamerkan penampilan maupun cuci mata di mall, serta tempat-tempat nongkrong lainnya. Atau, mendatangi pedagang yang penampilannya menarik untuk mengobrol lama-lama. Padahal juga tidak membeli. Kalau pun memang mau membeli, tetap tidak usah melirik.

Demikian dengan televisi dan internet, tidak perlu dihidupkan kecuali yang bermanfaat. Media sosial juga dikurangi, dan kalau perlu ditutup mulai Ramadan ini, dan seterusnya. Sebab, untuk apa kita mencari penyakit? Membuka pintu bagi ayam liar, yang membuatkacau pikiran dan nafsu kita sendiri. Menurunkan ayam liar dari mata ke hati, sehingga dia mencakar-cakar dan mematuk-matuk ketenangan dan keselamatan kita.

Mulai Ramadan ini, mari mulai membiasakan mata kita membaca al-Quran dan hadits-hadits. Juga kitab-kitab maupun tontonan yang memuat nasihat kebaikan, seperti sejarah Rasulullah Saw beserta para sahabat beliau, sejarah nabi-nabi, dan sebagainya. Supaya kita semakin yakin dan mendekat kepada Allah SWT, dan tentunya supaya kita diberi-Nya ketenangan dan keselamatan dunia dan akhirat.

Bulan Ramadan yang mulia, penuh rahmah dan pengampunan, bukanlah bulan yang dibuat-buat oleh sebagian pedagang atau bulan yang diresmikan oleh pemerintah. Tetapi Ramadan diciptakan oleh Yang Maha mulia, Maha Penyayang danMaha Pengampun. Tempat kembali bagi kita (manusia) dan seluruh makhluk. Cepat maupun lambat!

inilah.com

Mengapa Wanita Menjadi Fitnah Terbesar Kaum Laki-laki

Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Silakan kau suruh aku menjaga rumah mewah penuh harta melimpah, namun jangan kau suruh aku menjaga wanita yang tidak halal bagiku meskipun berupa budak yang hitam legam”

Termasuk dari rahmat-Nya, Allah  menciptakan hamparan dunia begitu indah lengkap dengan keragaman muatannya. Menganugerahkan kepada manusia berbagai kekayaan penuh pesona. Anak, istri, harta, tahta, dan dunia seluruhnya begitu menyejukkan mata. Allah berfirman,
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآب
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14)

Ayat di atas menjelaskan bahwa mencintai wanita dan dunia adalah fitrah manusia. Seorang laki-laki tidak dilarang mencintai wanita selama aplikasi cintanya tidak melanggar syariat. Seorang manusia tidak dilarang mencintai dunia selama kecintaannya tidak mennjerumuskan kepada maksiat. Namun sadarkah, sejatinya di balik keindahan itu semua adalah fitnah (ujian) untuk manusia?

Para ulama menjelaskan, tatkala Allah menjadikan dunia terlihat indah di mata manusia, ditambah dengan berbagai aksesorisnya yang memikat, mulailah jiwa dan hati condong kepadanya. Dari sini manusia terbagi menjadi dua kubu sesuai dengan pilihannya. Sebagian orang menjadikan seluruh anugerah tesebut sebagai tujuan hidupnya. Seluruh pikiran dan tenaga dikerahkan demi meraihnya, hal itu sampai memalingkan mereka dari ibadah. Akhirnya mereka tidak peduli bagaimana cara mendapatkannya dan untuk apa kegunaannya. 

Ini adalah golongan orang-orang yang kelak menerima azab yang pedih. Sedangkan golongan yang kedua adalah orang-orang yang sadar bahwa tujuan penciptaan dunia ini adalah untuk menguji manusia, sehingga mereka menjadikannya sarana untuk mencari bekal akhirat. Inilah golongan yang selamat dari fitnah, merekalah yang mendapat rahmat Allah[1].

Wanita, Ujian Terbesar Kaum Laki-laki

Di antara pesan agung yang bisa kita petik dari ayat di atas bahwa wanita, dunia, dan seisinya adalah fitnah (ujian) bagi manusia. Akan tetapi di antara fitnah-fitnah tersebut yang paling besar dan paling dahsyat adalah fitnah wanita. Oleh karena itu Allah menyebut pada urutan yang pertama sebelum menyebut anak-anak, harta, dst. Oleh karena itu pula Imam Ibnu Hajar mengatakan, “Allah menyebut wanita pada urutan yang pertama sebelum menyebut yang lainnya. Ini memberikan sinyal bahwa fitnah wanita adalah induk dari segala fitnah.”

Ungkapan Imam Ibnu Hajar ini selaras dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan dari Usamah Bin Zaid. Beliau bersabda, 
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari: 5096 dan  Muslim: 2740)

Hadis ini tidak berlebihan. Karena fakta memang telah membuktikan. Meskipun wanita diciptakan dengan kondisi akal yang lemah, namun betapa banyak lelaki yang cerdas, kuat gagah perkasa, dibuat lemah tunduk di bawahnya. Meskipun para wanita diciptakan dengan keterbatasannya, namun betapa banyak para penguasa jatuh tersungkur dalam jeratnya. Meskipun wanita dicipta dengan keterbatasan agama, namun betapa banyak ahli ibadah yang dibuat lalai dari Tuhannya.

Tidak sedikit seorang miliader kaya raya nekad berbuat korupsi demi istri tercinta. Tidak jarang darah tertumpah, pedang terhunus, karena wanita. Betapa banyak orang waras dengan akal yang sempurna menjadi gila gara-gara wanita. Bahkan sering kita jumpai seorang laki-laki rela bunuh diri demi wanita. Atau yang lebih parah dari itu semua entah berapa orang mukmin yang mendadak berubah menjadi kafir gara-gara wanita. Pantaslah jika rasulullah mengatakan fitnah wanita adalah fitnah yang luar biasa.

Bahkan betapa umat terdahulu hancur binasa juga gara-gara wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  mengabarkan dalam sabdanya,
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خضرة، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّــقُوا الدُّنْــيَا وَاتَقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِـي إِسْرَائِـيلَ كَانَتْ فِي النِسَاءِ
“Sesungguhnya dunia ini begitu manis nan hijau. Dan Allah mempercayakan kalian untuk mengurusinya, Allah ingin melihat bagaimana perbuatan kalian. Karenanya jauhilah fitnah dunia dan jauhilah fitnah wanita, sebab sesungguhnya fitnah pertama kali di kalangan Bani Israil adalah masalah wanita” (H.R. Muslim: 2742)

Apa Kata Ahli Ilmu?

Semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya dari bahaya fitnah wanita, para ulama juga tidak henti-hentinya mengingatkan umat ini dari ancaman tersebut. Banyak untaian nasihat mereka yang telah diabadikan di dalam literatur-literatur mereka.

Yusuf Bin Asbath mengatakan, “Seandainya aku mendapat amanah untuk menjaga baitulmal, saya optimis bisa melaksanakannya. Namun jiwaku tidak akan merasa aman jika dipercaya untuk berduaan dengan seorang wanita sekalipun dari kalangan negro, meski sesaat saja.”[2]

Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Silakan kau suruh aku menjaga rumah mewah penuh harta melimpah, namun jangan kau suruh aku menjaga wanita yang tidak halal bagiku meskipun berupa budak yang hitam legam.”[3]

Said bin Musayyib mengatakan[4], “Tidak ada yang saya takutkan melebihi ketakutanku terhadap wanita”. Kita lihat betapa beliau sangat takut dengan fitnah wanita, padahal usia beliau saat itu sudah menginjak umur 84 tahun. Tidak hanya itu, penglihatan beliau juga sudah rabun, itu pun yang bisa dipergunakan hanya tinggal satu mata. Namun demikian beliau masih tidak merasa aman dari fitnah wanita.

Bertakwalah Wahai Kaum Pria..

Bahaya fitnah wanita bukan sekadar teori untuk diketahui, akan tetapi yang lebih urgen adalah mengambil langkah preventif untuk menghindar dan antisipasi. Cukuplah firman Allah dan sabda nabi serta perkataan ulama di atas menjadi bahan pertimbangan bagi kita untuk coba menantang fitnah tersebut, apa lagi mencicipi. 

Sabar dan takwa kepada Allah serta menjaga hak-hak-Nya, itulah cara untuk membebaskan diri dari fitnah ini. Dengan bekal takwa, seorang laki-laki mampu menahan pandangannya, menahan hasrat jiwanya. Dengan bekal takwa pula Allah akan memberikan penjagaan kepada hamba-Nya.
Allah telah membuktikan penjagaan-Nya kepada nabi Yusuf  ‘alaihis salam dari fitnah Zulaikha lantaran beliau bertakwa, menjaga hak-hak Allah Ta’ala[5].

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata Dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24)

Sadarlah Wahai Kaum Hawa..

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mendiskreditkan para wanita yang begitu ringkih dan lemah. Apa lagi sampai menuduh mereka makhluk yang menjadi sumber petaka, jahat dan keji. Tidak sama sekali…
Akan tetapi penulis hanya ingin berkongsi ilmu serta mengingatkan, bahwa di balik kelemahan wanita tersimpan potensi yang sangat luar biasa untuk menggoda serta membinasakan laki-laki yang kuat perkasa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepada para wanita di zaman beliau,
مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرجل الحازم من إحداكن
“Aku tidak melihat ada manusia yang kurang akal dan agamanya, namun mampu meluluhkan nalar lelaki perkasa selain kalian”

Seandainya pun Anda tidak memiliki kecantikan, kedudukan, dan kesempatan seperti apa yang dimiliki Zulaikha, akan tetapi Anda harus tahu barangkali tidak ada lelaki saat ini yang mampu menahan fitnah wanita seperti Yusuf.

Jika demikian halnya, hendaklah setiap wanita berusaha menjaga diri. Jangan sampai ia menyebabkan para lelaki berpaling dari Allah atau menyebabkan mereka bermaksiat kepada Allah. Baik itu suaminya, orang tuanya, saudaranya, ataupun orang lain.

Sungguh maha adil Allah, ketika Allah memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada para wanita untuk menjadi fitnah terbesar di dunia, Allah juga memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada mereka untuk menjadi perhiasan termahal dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الدنيا متاع، وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim: 1467)

Kisah Fitnah Dalam Sejarah..

Sebagai penutup, berikut kita simak beberapa kisah klasik yang sempat mengubah sejarah akibat fitnah wanita. Di antaranya adalah kisah nabi Adam dan Hawa yang sudah tidak asing bagi kita. Ketika Iblis merasa putus asa lantaran tidak bisa menggoda Adam.

Kisah Shalih sang muazin[6]. Dikisahkan ada seorang pemuda bernama Shalih sang Muazin. Suatu ketika saat  ia menaiki menara untuk mengumandangkan azan, ia melihat seorang gadis nasrani yang  rumahnya berada di sisi masjid.

Ternyata peristiwa itu membuat sang pemuda jatuh hati dan terfitnah. Ia pun mendatangi rumahnya dan mengetuk pintunya.
“Siapa?” Tanya sang gadis.
“Saya Shalih tukang adzan.”
Sang gadis pun membukakan pintu untuknya. Tatkala sudah masuk ke dalam rumah, sang pemuda berusaha memeluknya.

“Apa-apaan ini..! Kalian ini orang yang diberi amanat..!” teriak sang gadis mengingatkan.
“Kau ingin saya bunuh atau melayani keinginanku?” jawab pemuda.
“Saya tidak sudi. Saya tidak mau melayanimu kecuali jika kamu meninggalkan agamamu..!”
Pemuda tersebut mengatakan, “Aku telah berlepas diri dari agamaku dan dari ajaran Muhammad.”
Sang pemuda semakin mendekat. Sang pemuda mulai tersungkur bertekuk lutut dalam pelukan  jerat-jerat asmara. Saat itulah sang gadis menyuruhnya untuk memakan daging babi dan menengguk minuman keras. Sang pemuda menurut bagai kerbau yang dicocok hidungnya. Ketika sang pemuda sedang dalam keadaan mabuk berat, ia disuruh untuk naik loteng. Akhirnya sang pemuda jatuh dan mati dalam keadaan kafir. Wal’iyyadzubillah.

Ibnul Jauzi mengatakan, “Waspadalah..! –semoga Allah merahmatimu- jangan sampai engkau berani menantang sumber fitnah, sebab orang yang mendekatinya akan jauh dari keselamatan. Jika waspada darinya identik dengan keselamatan, sebaliknya menantangnya identik kebinasaan. Sangat jarang orang yang mendekati fitnah mampu selamat dari jeratnya.”[7]

https://muslim.or.id/19526-wanita-ujian-terbesar-kaum-laki-laki.html

Khalwat (Berdua-dua-an) yang dilarang Islam

Khalwat adalah seorang laki-laki berada bersama perempuan yang bukan mahramnya dan tidak ada orang ketiga bersamanya. Khalwat adalah perkara yang diharamkan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Rasulullah saw bersabda:
“Hati-hati kalian terhadap masuk (bertemu) dengan para perempuan. Maka berkata seorang lelaki dari Anshar: “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu dengan Al Hamwu?” Beliau berkata: “Al Hamwu adalah maut.” (HR. Bukhari Muslim)

Menurut Imam Muslim: “Al Hamwu adalah saudara laki-laki suami dan yang serupa dengannya dari kerabat sang suami; Anak paman dan yang semisalnya.”

Imam Nawawi: “Sepakat ahli bahasa bahwa makna Al Hamwu adalah kerabat suami sang istri seperti bapaknya, Ibunya, saudara laki-lakinya, anak saudara laki-lakinya, anak pamannya dan yang semisalnya.”
Kemudian Imam An Nawawi berkata: “Dan yang diinginkan dengan Al Hamwu disini adalah kerabat suami selain bapak-bapaknya dan anak-anaknya. Adapun bapak-bapak dan anak-anaknya, mereka adalah mahram bagi istrinya, boleh bagi mereka ber-khalwat dengannya dan tidaklah mereka disifatkan sebagai maut.”

Adapun sabda Rasulullah saw: “Al Hamwu adalah maut,” ada beberapa penjelasan dari para ‘ulama tentang maksudnya:
(1) Maksudnya bahwa ber-khalwat dengan Al Hamwu akan mengantar kepada kehancuran agama seseorang yaitu dengan terjatuhnya ke dalam maksiat, atau mengantar kepada mati itu sendiri yaitu apabila ia melakukan maksiat dan mengakibatkan ia dihukum rajam, atau bisa kehancuran bagi perempuan itu sendiri yaitu ia akan diceraikan oleh suaminya bila sebab kecemburaannya.
(2) Berkata Ath Thobari: “Maknanya adalah seorang lelaki ber-khalwat dengan istri saudara laki-lakinya atau (istri) anak saudara laki-lakinya kedudukannya seperti kedudukan maut dan orang Arab mensifatkan sesuatu yang tidak baik dengan maut.”
(3) Ibnul ‘A’rabi menerangkan bahwa orang Arab kalau berkata: “Singa adalah maut” artinya berjumpa dengan singa adalah maut yaitu hati-hatilah kalian dari singa sebagaimana kalian hati-hati dari maut.
(4) Berkata pengarang Majma’ Al Gharâ’ib: “Yaitu tidak boleh seorangpun ber-khalwat dengannya kecuali maut.”
(5) Berkata Al Qodhi ‘Iyadh: “Maknanya bahwa ber-khalwat dengan Al Hamwu adalah pengantar kepada fitnah dan kebinasaan.”
(6) Berkata Al Qurthubi: “Maknanya bahwa masuknya kerabat suami (bertemu) dengan istrinya menyerupai maut dalam jeleknya dan rusaknya yaitu hal tersebut diharamkan (dan) dimaklumi pengharamannya.”

2. Rasulullah saw bersabda:
“Janganlah seorang laki-laki ber-khalwat dengan perempuan kecuali bersama mahramnya. Maka berdirilah seorang lelaki lalu berkata: “Wahai Rasulullah, istriku keluar untuk haji dan saya telah terdaftar di perang ini dan ini.” Beliau berkata: “Kembalilah engkau, kemudian berhajilah bersama istrimu.” (HR. Bukhari)
3. Rasulullah saw bersabda:
“Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan perempuan karena yang ketiga bersama mereka adalah syaithan.” (HR. Tirmidzi)
4. Rasulullah saw bersabda:
“Janganlah seorang laki-laki bermalam di tempat seorang janda kecuali ia telah menjadi suaminya atau sebagai mahramnya.” (HR. Muslim)
5. Rasulullah saw bersabda:
“Perempuan itu adalah aurat, kalau dia keluar maka dibuat agung/indah oleh syaithan.” (HR At Tirmidzi)
Maka hindarilah berkhalwat atau hanya berdua-duaan dengan yang bukan muhrim , karena selain diharamkan juga membawa banyak kemudharatan sebagaimana telah disebutkan dalam larangan Rasulullah saw melaui hadistnya. Dan seharusnya bagi seorang muslim dan muslimah apabila Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, hendaknya bersikap tunduk dan patuh pada perintah-Nya sebagai aplikasi keimanan kepada-Nya, sebagaimana

firman Allah SWT :
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS Al Ahzâb: 36)

(https://www.facebook.com/permalink.php?id=275089835843993&story_fbid=466196330066675)

Hukum Takhbib (Menggoda Istri Orang)

Di era digital semua serba mudah untuk melakukan sesuatu yg bernilai ibadah atau pun sebaliknya. Demikian halnya yg marak terjadi saat ini adalah trend selingkuh via medsos.

Berawal dari komunikasi sederhana, dilanjut dengan saling curhat, hingga tertanam cinta karena syahwat. Lebih parah lagi, ketika kejadian itu dialami oleh mereka yang telah berkeluarga. Karena interaksi lawan jenis yang tidak halal, Alloh cabut rasa cintanya terhadap keluarganya, digantikan dengan kehadiran orang baru dalam hatinya. Disadari maupun tidak, sejatinya itu merupakan hukuman bagi orang yang telah bisa menikmati segala yang haram, Alloh hilangkan dari dirinya untuk bisa menikmati sesuatu yang halal.


(Baca : Panah Asmara Beracun : dari mata turun ke hati )


Dosa Takhbib
Diantara dosa besar yg mungkin jarang diketahui oleh kaum muslimin adalah dosa takhbib. Menjadi penyebab percerian dan kerusakan rumah tangga. Karena kehadirannya, membuat seorang wanita menjadi benci terhadap suaminya dan meminta untuk berpisah dari suaminya.
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits, memberikan ancaman keras untuk pelanggaran semacam ini. Diantaranya,

  1. Dari Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امرَأَةً عَلَى زَوجِهَا
”Bukan bagian dariku seseorang yg melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud)

  1. Juga dari Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ أَفْسَدَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا
”Siapa yg merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dariku.” (HR. Ahmad).

Dalam penjelasannya tentang bahaya cinta buta, Ibnul Qoyim menjelaskan tentang dosa takhbib,
وقد لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم من فعل ذلك ، وتبرأ منه ، وهو من أكبر الكبائر ، وإذا كان النبي صلى الله عليه وسلم قد نهى أن يخطب الرجل على خطبة أخيه وأن يستام على سومه : فكيف بمن يسعى بالتفريق بينه وبين امرأته وأمته حتى يتصل بهما
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah melaknat orang yang melakukan takhbib, dan beliau berlepas diri dari pelakunya. Takhbib termasuk salah satu dosa besar. Karena ketika Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang untuk meminang wanita yang telah dilamar oleh lelaki lain, dan melarang seseorang menawar barang yang sedang ditawar orang lain, maka bagaimana lagi dengan orang yang berusaha memisahkan antara seorang suami dengan istrinya, sehingga dia bisa menjalin hubungan dengannya. (al-Jawab al-Kafi, hlm. 154).

Makna Takhbib
Dalam Syarah Sunan Abu Daud Adzim Abadi (w. 1329 H) menjelaskan, takhbib secara bahasa artinya menipu dan merusak. Dengan menyebut-nyebut kejelekan seorang suami di hadapan istrinya atau kebaikan lelaki lain di depan wanita itu. (Aunul Ma’bud, 6/159).


Di bagian lain, beliau juga menyebutkan,
مَنْ خَبَّب زوجة امرئ أي خدعها وأفسدها أو حسن إليها الطلاق ليتزوجها أو يزوجها لغيره أو غير ذلك
‘Siapa yang melakukan takhbib terhadap istri seseorang’ maknanya adalah siapa yang menipu wanita itu, merusak keluarganya atau memotivasinya agar cerai dengan suaminya, agar dia bisa menikah dengannya atau menikah dengan lelaki lain atau cara yang lainnya. (Aunul Ma’bud, 14/52).


Ad-Dzahabi mendefinisikan takhbib,
إفساد قلب المرأة على زوجها
”Merusak hati wanita terhadap suaminya.” (al-Kabair, hal. 209).
Dalam Fatwa Islam, usaha memisahkan wanita dari suaminya, tidak hanya dalam bentuk memotivasi si wanita untuk menuntut cerai dari suaminya. Yang juga termasuk takhbib adalah ketika seseorang memberikan perhatian, empati, menjadi teman curhat terhadap wanita yg sedang ada masalah dengan keluarganya.


وإفساد الزوجة على زوجها ليس فقط بأن تطلب منها الطلاق ، بل إن محاولة ملامسة العواطف والمشاعر ، والتسبب في تعليقها بك أعظم إفساد ، وأشنع مسعى يمكن أن يسعى به بين الناس .
”Merusak hubungan istri dengan suaminya, tidak hanya dalam bentuk memotivasi dia untuk menggugat cerai. Bahkan semata upaya memberikan empati, belas kasihan, berbagi rasa, dan segala sebab yang membuat si wanita menjadi jatuh cinta kepadamu, merupakan bentuk merusak (keluarga) yang serius, dan usaha paling licik yang mungkin bisa dilakukan seseorang.” (Fatwa Islam)


Memahami hal ini, berhati-hatilah dalam bergaul dengan lawan jenis siapapun dia. Bisa jadi pada awalnya seseorang memiliki niat baik, niat saling menolong, niat merasa kasihan, perlu ada teman untuk berbagi rasa. Kan gak ada masalah kalo cuma jadi teman curhat, yang penting gak ada perasaan apa-apa. Kita kan niatnya baik, saling mengingatkan dan menasehati. Saya merasa dekat dengan Alloh semenjak kenal dia, kita saling mengingatkan untuk tahajud, untuk puasa sunah, saya menjadi rajin ibadah karena nasehatnya, hatiku merasa nyaman dan tentram bersamanya, semoga dia menjadi pasanganku di surga…, dan seabreg khayalan kasmaran lainnya.


Ibnul Jauzi menukil nasehat dari Al-Hasan bin Sholeh yg mengatakan,
إن الشيطان ليفتح للعبد تسعة وتسعين بابا من الخير يريد به بابا من الشر
“Sesungguhnya setan membuka 99 pintu kebaikan, untuk menjerumuskan orang ke dalam satu pintu keburukan.” (Talbis Iblis, hlm. 51).

Waspada bagi para lelaki, jangan sampai menerima curhat wanita tentang keluarganya. Bisa jadi ini langkah pembuka Iblis untuk semakin menjerumuskan anda. Terkecuali jika anda seorang ulama, tokoh agama, yang berhak memberikan fatwa dengan ilmunya. Anda bisa menjelaskan halal-haram satu masalah.

Semoga Allah, menyelamatkan kita dari bahaya besar lingkungan yang kurang memperhatikan adab pergaulan. Aamiin
Semoga manfa’at




http://www.sarkub.com/2015/hukum-takhbib-menggoda-istri-orang

Waspada! Jin Bisa Meniduri Wanita, Lakukan Ini Untuk Menghindarinya

Sudah harus menjadi kesadaran bagi semua wanita untuk mewaspadai gangguan jin atas wanita-wanita muslimah.

Perlu diketahui, wanita adalah mangsa empuk bagi jin maupun dukun untuk melampiaskan kejahatannya. Wanita lebih mudah kesurupan, di santet, dan disihir oleh dukun. Dan itu lebih rentan apabila dalam keadaan haidh, ditambah lagi kondisi lahir dan batin yang tidak bersih.

Rasul bersabda, ketika wanita keluar rumah maka setan akan menghiasi mereka depan dan belakang. Depan di bagian wajah dan belakang di bagian pinggul. Oleh karenanya kenapa wanita disebut akan mendatangkan fitnah ketika keluar rumah, dianjurkan bagi mereka agar berpakaian tertutup, berdoa serta berzikir agar setan tidak menghiasi mereka serta tidak memudharatkan mereka.

Jin sangat senang melihat aurat, dan itu terlebih lagi bagi wanita. Ketika Rasul pulang kerumah dari gua Hira, Khatijah membuka baju beliau dan menanyakan apakah makhluk (jibril) masih ada? Jika tidak maka itu malaikat dan jika ada maka itu setan. Karena setan senang melihat aurat manusia. Sedang Rasul dalam keadaan ketakutan masa itu. Dan jibril telah pergi. Begitu juga dengan wanita, pastikan membaca doa (minimal bismillah) ketika membuka aurat, niscaya Allah akan memberi hijab sehingga alam ghaib tidak dapat melihatnya.

Begitupun ketika masuk WC/Kamar Mandi/Toilet. Disebutkan dalam hadits bahwa tempatnya jin disana. Olehkarenanya, pastikan tidak lupa untuk membaca doa masuk wc agar Allah menghijabkannya jika anda tidak mau di plototin oleh jin selama anda didalam tempat itu. Jin hidup di tempat2 kotor. Termasuk juga bagian tubuh manusia. Jika tidak terurus dan dibiarkan kotor maka dipastikan jin berhinggap disana.

Ukuran jin itu berbagai macam. Ketika kita memaki ia akan tumbuh besar dan ketika kita berzikir ia akan mengecil. Pastika tubuh anda terjaga dari kotoran dan najis serta jadikan ia selalu wangi. Ketika menguap tutup mulut anda dan tahan agar tidak bersuara. Karena dengan menguap jin mudah memasuki dan bersarang didalam tubuh.

Pastikan ketika keluar rumah anda tidak sendirian dan tidak berdua2an dengan bukan mahram. Karena jin hadir diantara mereka.

Jika anda sudah berkeluarga, pastikan saat berjimak tidak lupa membaca doa (minimal bismillah). Supaya jin dan setan tidak ikut serta dalam hubungan anda. Karena jin bisa saja meniduri anda/istri anda. Itu karena jin juga memiliki nafsu seperti manusia. Sama seperti nafsunya manusia melihat jin yang memikat hati karena wujud rupanya yang mengundang syahwat.

– jangan mandi dalam keadaan terbuka
– jangan mandi selepas petang
– jangan tidur dalam keadaan terbuka (pakaian yg minim)
– jangan tidur telentang, sebaiknya tidur menyamping ( seperti sunnah rasulullah)
– jangan tidur setelah ashar sampai habis maghrib
– jangan tidur di ruang tamu

Saat anda (wanita) tidur, jangan lupa membaca doa. Itu agar anda selamat dari kejahatan jin laki-laki. Jika anda merasa ditindih jin maka langsung bertaawudz dan memohon pertolongan karena bisa jadi anda sedang ditiduri jin.
Jika anda anak kos, ketika masuk jangan lupa salam dan doa. Itu supaya rumah anda tidak dihuni jin laki-laki dan supaya tidak memudharatkan anda. Pastikan anda melaksanakan shalat dan tilawah quran didalamnya.

Perlu anda ketahui, sebagaimana pengalaman dari kisah yang ada. Bahwa jin sangat suka dengan wanita cantik. Banyak kita jumpai peristiwa wanita kesurupan karena jin yang merasukinya itu cinta padanya. Jin itu akan mengikutinya kemanapun ia pergi. Pastikan anda selalu memproteksi diri dengan membaca ayat kursi ba’da maghrib, subuh dan sebelum tidur. Kemudian membaca doa sebelum makan dan minum.

http://soeryonopost.blogspot.co.id/2015/10/waspada-jin-bisa-meniduri-wanita.html?m=1

Larangan Berbuat Zalim dan Akibatnya

Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah SWT berfirman:

“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya telah AKU haramkan atas diri-KU perbuatan zalim dan Aku jadikan ia diharamkan di antara kamu, maka janganlah kalian saling berbuat zalim.”

Sehubungan dengan itu, beliau Rasulullah saw banyak mengeluarkan ancaman dan peringatan keras terhadap kezaliman.

Beliau Saw bersabda:

  • “Jauhilah kezaliman, sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.
  • “Waspadalah terhadap do'a orang yang dizalimi. Sesungguhnya antara dia dengan Allah tidak ada tabir penyekat." (HR. Mashabih Assunnah)
  • “Do'anya seorang yang dizalimi terkabul meskipun dia orang jahat dan kejahatannya menimpa dirinya sendiri." (HR. Ahmad)
  • “Do’a orang yang teraniaya diangkat Allah menembus awan dan dibukakan pintu langit baginya, seraya Allah berfirman padanya; “Demi Keagungan-KU, Aku akan membelamu sampai kapan pun.”
  • “Waspadalah terhadap do'a orang yang teraniaya, karena do’anya naik ke langit seperti bunga api."
Allah Azza Wajalla berfirman (hadits Qudsi):

"Dengan keperkasaan dan keagungan-KU, AKU akan membalas orang zalim dengan segera atau dalam waktu yang akan datang. AKU akan membalas terhadap orang yang melihat seorang yang dizalimi sedang dia mampu menolongnya tetapi tidak menolongnya." (HR. Ahmad)

Menurut junjungan kita Nabi Muhammad Saw;

"kezaliman akan memakan keutamaan (kebaikan) si zalim seperti halnya api memakan sekam."

Nabi Muhammad Saw bersabda, memperingatkan si zalim akan hari pembalasan:


“Waspadalah sungguh-sungguh terhadap kezaliman itu. Karena orang yang datang dengan kebaikan-kebaikannya di Hari Kiamat, dan ia mengira bahwa kebaikan-kebaikannya itu akan menyelamatkannya. Tiba-tiba tidak putus-putus datang pengaduan dari orang lain, yang mengadukan: “Ya Allah! Hamba-Mu itu telah melakukan kezaliman padaku.”

Maka firman Allah: “Hapuskan (kurangkan) bagian pahala dari kebaikannya itu”.

Dan begitulah seterusnya sampai tidak tersisa kebaikannya itu walau sedikit pun. Dan apabila sdh tidak tersisa lagi amal kebaikannya, maka dosa-dosa orang yang pernah dizaliminya, akan dibebankan pada dirinya.”

Tindakan qishash bagi kezaliman itu pasti terjadi dan secara tiba-tiba datangnya. Tentang hal ini Beliau saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menangguhkan (mengulur-ulur) azabnya terhadap orang zalim dan bila Dia mengazab-nya tidak akan luput (tidak akan di lepaskan lagi)." (HR. Muslim).

Kemudian Rasulullah membacakan doa dalam surat Hud ayat 102: Allah Ta’ala berfirman,

“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS Huud:102)

Nabi Muhammad saw mengingatkan kepada kita semua tentang betapa buruknya perbuatan zalim itu, namun Beliau saw juga selalu mengingatkan kita tentang betapa luasnya kekuasaan dan ampunan Allah terhadap para hamba-Nya. Karena itu, bila sedang lupa hingga tergelincir kedalam perbuatan maksiat (menzalimi diri sendiri), maka hendaklah seorang Mukmin bersegera dalam melaksanakan taubat kepada Allah serta meminta maaf kepada saudara kita yang dizalimi, dan tidak menunda-nunda taubat, sebab kita tidak pernah mengetahui kapan ajal menjemput sehingga kita mati sebelum sempat bertaubat hingga menyebabkan kita memperoleh murka-Nya.

Beliau selalu memberikan harapan kepada kita agar senantiasa bersangka'an baik terhadap Allah, dan hendaknya tidak berputus asa dari mengharap rahmat-Nya serta meyakini sepenuhnya bahwa Dia pasti mengampuni sebesar apa pun dosa-dosa hamba-Nya. selama ia tidak berbuat syirik terhadap-Nya.

Dan firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri.” (QS Yuunus:44)

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah Swt berfirman:

“ Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya ia hanyalah perbuatan-perbuatan kalian yang aku perhitungkan bagi kalian, kemudian AKU cukupkan buat kalian; barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah ia mencela selain dirinya sendiri.” (HR.Muslim)

[Makna kata “Perbuatan zhalim”: Kezhaliman artinya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, yaitu melampaui batas; dan Makna “Aku cukupkan buat kalian”: adalah AKU membalas kalian berdasarkan perbuatan kalian baik kecil mau pun besar, yaitu di akhirat kelak.]

Allah SWT juga berfirman dalam Al-Qur'an:

“Dan Aku sekali-kali tidak menzhalimi hamba-hamba-Ku.” (QS Qaaf:29).

Sikap zalim dan bakhil (kikir) adalah akar dari kegelapan hati dan yang dapat menyebabkan pelakunya mendapatkan siksa yang pedih.

Rasulullah SAW bersabda,

  • “Takutlah kamu akan berbuat zalim! Karena perbuatan zalim itu menyebabkan kegelapan di hari Kiamat." (HR.al-Bukhary dan Muslim)
  • "Jauhilah kekikiran, sesungguhnya kekikiran telah membinasakan (umat-umat) sebelum kamu, mereka saling membunuh dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan.” (HR. Bukhari)

Dalam sabdanya yang lain:
  • “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan mengulur-ulur bagi pelaku kezaliman hingga bila Dia menyiksanya, Dia tidak akan membuatnya lolos (dapat menghindar lagi).” (HR.al-Bukhary)
  • “Barangsiapa menzalimi orang lain terhadap sejengkal lahan maka kelak dia akan dililit dengan tujuh petala bumi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi Muhammad Saw sangat menentang segala bentuk kezaliman, dan karenanya, beliau senantiasa memperingatkan umatnya tentang balasan Allah terhadap orang-orang yang berbuat zalim dengan sabdanya dalam hadits-hadits berikut ini:

  • “Barangsiapa berjalan bersama seorang yang zalim untuk membantunya dan dia mengetahui bahwa orang itu zalim maka dia telah ke luar dari agama Islam”. (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)
  • “Kebaikan yang paling cepat mendapat ganjaran ialah kebajikan dan menyambung hubungan kekeluargaan, dan kejahatan yang paling cepat mendapat hukuman ialah kezaliman dan pemutusan hubungan kekeluargaan." (HR. Ibnu Majah)
  • "Bila orang-orang melihat seorang yang zalim tapi mereka tidak mencegahnya dikhawatirkan Allah akan menimpakan hukuman terhadap mereka semua." (HR. Abu Dawud)

Pemimpin Zalim Adalah Cermin dari Rakyat yang Zalim

Allah ta'ala berfirman:  “Dan kami jadikan sebagian orang zalim itu sebagai teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka kerjakan” (Al An'am:129)

Demikian terjemah dari ayat ini yang banyak dijumpai pada mushaf yang beredar di Indonesia. Memang inilah salah satu tafsir kata yang tepat. Namun ada makna lain dari kata yang diutarakan Ulama tafsir. Pemimpin. Ya inilah versi lain dari takwil kata.

Bila dimaknai dengan pemimpin, maka terjemah dari ayat itu sebagai berikut: "Dan kami jadikan sebagian orang zalim itu pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan kezaliman dan maksiat yang mereka kerjakan" Dengan pemaknaan ini, maka ayat ini merupakan dalil sunnatullah. Ketentuan Allah yang diistilahkan oleh para ulama dengan "Al Jaza' min jinsil amal". Balasan tergantung amal perbuatan.

Agar pemahaman terkait ayat ini lebih mendalam, mari simak uraian Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah ketika menjelaskan ayat ini "Perhatikanlah hikmah Allah ta'ala yang menjadikan pemimpin, penguasa dan raja segenap hamba-Nya berdasarkan jenis amal yang mereka kerjakan. Bahkan seolah-olah penguasa adalah cerminan dari perbuatan rakyatnya.

Jika umat istiqomah berjalan diatas kebenaran maka demikian pula penguasanya. Jika masyarakat berlaku adil, maka yang memimpin mereka pun insan yang adil. Bila tipu daya dan makar tersebar dan dipraktekkan secara luas oleh rakyat, maka rajanya pun demikian -gemar menipu rakyatnya-.

Bila rakyat tidak menunaikan hak-hak Allah, bakhil dalam mengeluarkan zakat dan enggan menunaikan kewajibannya sebagai hamba. Maka pemimpin yang menguasai mereka akan berlaku demikian terhadap mereka. Tidak mau menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin dan enggan menunaikan hak-hak rakyat.

Andai rakyat mempraktekan hukum rimba, yang lemah diantara mereka diambil haknya secara paksa oleh yang kuat. Maka penguasa yang memimpin mereka akan berlaku serupa. Yakni mengambil harta rakyat secara zalim. Semakin keji pemeras menguras harta yang lemah. Semakin besar tekanan dan paksaan penguasa dalam rangka mengambil kekayaan rakyatnya tanpa alasan yang benar.

Para pemimpin adalah cerminan rakyat. Tidaklah memimpin orang zalim, gemar bermaksiat dan durhaka kepada Allah kecuali orang yang tidak adil dan tidak peduli dengan syariat Allah.
Oleh karena generasi awal umat ini adalah sebaik-baik umat -dalam hal iman dan amal saleh- maka pemimpin mereka pun demikian (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali Radhiallahu anhum). Ketika kondisi umat bercampur. Ada diantara mereka yang zalim, dan sebagian yang lain adalah orang baik. Maka pemimpin yang menguasai mereka pun bergilir -terkadang orang saleh, di lain waktu orang fasik.

Pemimpin kita itu sesuai dengan kondisi kita. Dan penguasa orang-orang sebelum kita -para sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in- sesuai dengan keadaan mereka (saleh, adil, tidak suka menipu sesama, tidak gemar bermaksiat, ed). Itulah sebagaimana penuturan Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah.

Baca juga profil wanita muda cantik segudang prestasi :
(mozaik.inilah.com)

Pemimpin yang Tidak Berlaku Adil

Pemimpin yang telah dipilih oleh rakyat dan diberikan amanah untuk mentakbirkan negara sekiranya ia melakukan kezaliman kepada rakyat dan tidak berlaku adil tidak akan dapat mencium keharuman syurga dan dimasukkan kedalam neraka sebelum hisab (perhitungan amal).

Ma’qil Ibnu Yasar r.a berkata “ Saya mendengar Nabi S.A.W bersabda maksudnya : “ Tidak ada seorang hamba yang Allah serahkan kepadanya untuk memimpin segolongan rakyat lalu ia tidak memelihara rakyatnya itu dengan menuntut dan memimpin mereka kepada kemaslahatan dunia dan akhirat melainkan tiadalah ia mencium bau syurga.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Sabda Rasulullah S.A.W maksudnya : "Sebaik-baik pemerintah kamu adalah pemerintah yang kamu sayangi mereka, dan mereka menyayangi kamu.

Kamu mendoakan ke atas mereka, dan mereka mendoakan ke atas kamu. (Adapun) Sejahat-jahat pemerintah kamu adalah mereka yang kamu benci dan mereka pula benci kepada kamu, kamu melaknat mereka dan mereka melaknat kamu.Berkata (Auf), kami bertanya : Wahai Rasulullah, apakah boleh kami menyerang mereka dengan pedang ? Nabi menjawab : “Tidak boleh, selama mereka menunaikan solat.” (Hadis Riwayat Muslim) Abdullah bin Mas’ud.Rasulullah S.A.W. bersabda maksudnya : “Sesungguhnya kamu akan melihat selepasku sikap (pemerintah) mementingkan diri dan kamu akan melihat perkara-perkara yang kamu ketahui ia mungkar (pada pemerintah).

Mereka berkata: Apa yang engkau perintahkan kami (lakukan) wahai Rasulullah? Sabda baginda: Tunaikan untuk mereka hak mereka dan mintalah kepada ALLAH hak kamu.” (Hadis Riwayat Bukhari) Dalam realiti kita hari ini di dalam seluruh dunia Islam pemimpin negara Islam kebanyakkannya tidak berlaku adil kepada rakyat dibawah pemerentahannya.

Selagi mereka tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah S.W.T. selagi itulah mereka tidak akan dapat berlaku adil. Pemimpin kerapkali merampas hak rakyat, rasuah, menyalah gunakan dana kerajaan dan menagkap dan memenjarakan rakyat yang tidak berdosa tanpa dibicarakan di mahkamah terbuka. Para ulama yang bertanggungjawab menyampaikan dakwah kepada rakyat disekat dan dikenakan berbagai halangan dan sekatan sehingga rakyat yang dahagakan ilmu terbiar tanpa mendapat tarbiah dan kesedaran Islam.

Perkembangan terkini dua buah negara Arab yang mana pemimpinnya cukup zalim dan kejam, rakyatnya telah bangkit memberontak dan mengadakan tunjuk perasaan secara besar-besaran, yang satu telah jatuh dan menanti yang satu lagi bila-bila masa akan jatuh dibawah gelombang rakyat yang dahagakan keadilan dan kebebasan.

Cuba kita bayangkan bagaimana zalimnya seorang pemimpin Islam sanggup menjadi 'budak suruhan' Yahudi laknatullah, saudara kita Palestin membawa makanan dan ubat-ubatan melalui trowong bawah tanah pihak tentera telah melepaskan gas beracun hinggakan mereka yang berada di trowong mati kerana sesak nafas.

Tunggulah balasan Allah kepada mereka yang menzalimi saudara muslim yang tidak berdosa! Para pemimpin pergerakan Islam di dua negara tersebut telah di tangkap dan diseksa dengan berbagai-bagai seksaan sedangkan mereka bukan penjenayah, mereka hanya menyampaikan dakwah untuk menyelamatkan umat daripada kejahilan dan kemurkaan Allah.

Kebangkitan gelombang rakyat adalah suatu yang tidak dapat disekat lagi kerana rakyat memerlukan pemimpin yang adil , amanah dan pemimpin berhati rakyat. Ingatlah wahai pemimpin umat Islam! Kedudukan kalian sentiasa dibawah pengawasan Allah! Andainya kalian adil , kalian akan mendapat naungan Arasy di Padang Mahsyar nanti.

Sebaliknya jika kalian zalim dan menindas rakyat maka kalian adalah golongan pertama akan di masukkan ke dalam neraka tanpa hisab kerana betapa besarnya dosa kalian disisi Allah S.W.T.

Baca juga profil wanita muda cantik segudang prestasi :

Manusia Tidak Pernah Puas Dengan Harta yang dimiliki

Manusia tidak pernah puas dengan harta. Itulah sifat dan watak orang zaman ini kecuali yang Allah beri taufik untuk menyikapi harta dengan benar. Ada yang menghabiskan waktunya hanya untuk urusan dunianya, sampai lupa melakukan ketaatan dan lalai akan kehidupan kekal di akhirat.

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)

Dalam lafazh lain disebutkan,

عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِمَكَّةَ فِى خُطْبَتِهِ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُولُ « لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Dari Ibnu ‘Abbas bin Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Ibnu Az Zubair berkata di Makkah di atas mimbar saat khutbah, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Dan Allah Maha Menerima taubat siapa saja yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438).

Dalam Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin yang disusun di antaranya oleh Syaikh Musthofa Al Bugho, yang dimaksud dengan “tidak ada yang memenuhi perutnya kecuali tanah” adalah ia terus menerus memenuhi dirinya dengan harta sampai ia mati lantas di kuburnya isi perutnya dipenuhi dengan tanah kuburan.

Hadits di atas mengandung beberapa pelajaran:
1- Semangatnya manusia untuk terus menerus mengumpulkan harta dan kemewahan dunia lainnya. Semangat seperti ini tercela jika sampai membuat lalai dari ketaatan dan hati menjadi sibuk dengan dunia daripada akhirat.
2- Allah menerima taubat setiap hamba. (Lihat Nuzhatul Muttaqin, hal. 30).

Baca artikel lainnya : Manusia Tidak Pernah Puas dengan Harta

Hanya Allah yang memberi taufik.

Mengangkat Orang-Orang Bodoh dan Hina Sebagai Pemimpin

Di antara tanda-tandanya adalah orang-orang hina diangkat sebagai pemimpin dan lebih mempercayakan mereka melebihi orang-orang terbaik mereka. Sehingga segala urusan masyarakat berada di tangan orang-orang bodoh dan hina yang tidak ada kebaikan di dalam diri mereka. Ini adalah keterbalikan fakta dan berubahnya keadaan. Dan ini yang terjadi dan dapat kita saksikan di zaman ini. Anda bisa melihat bahwa kebanyakan pemimpin masyarakat juga dewan pertimbangan mereka adalah orang yang sangat rendah keshalihan dan keilmuannya. Padahal, semestinya orang-orang yang beragama dan bertakwalah yang lebih diutamakan dari selain mereka dalam menang-gung urusan masyarakat. Karena manusia yang paling mulia adalah orang-orang yang memiliki agama dan ketakwaan, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu...” [Al-Hujuraat: 13]

Karena itulah, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mempercayakan berbagai wilayah dan urusan manusia hanya kepada orang yang paling shalih dan paling berilmu. Demikian pula yang dilakukan para khalifah sepeninggal beliau. Contoh-contoh dalam masalah ini sangat banyak, di antaranya apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada penduduk Najran:

َلأَبْعَثَنَّ إِلَيْكُمْ رَجُلاً أَمِينًا حَقَّ أَمِينٍ، فَاسْتَشْـرَفَ لَهُ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ أَبَا عُبَيْدَةَ.

“Sungguh aku akan mengutus kepada kalian seorang yang benar-benar terpercaya,” lalu para Sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memperhatikannya, lalu beliau mengutus Abu ‘Ubaidah.[1]

Berikut ini sebagian hadits yang menunjukkan diangkatnya orang-orang hina sebagai pemimpin, dan hal itu merupakan tanda-tanda Kiamat.

Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا اْلأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيلَ: وَمَـا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ.

“Sesungguhnya akan datang pada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipuan, seorang pembohong dibenarkan dan seorang yang jujur dianggap berbohong, seorang pengkhianat dipercaya dan seseorang yang dipercaya dianggap khianat, dan saat itu Ruwaibidhah [2] akan berbicara.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah Ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab, “Ia adalah orang bodoh yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” [3]

Dan di dalam hadits Jibril yang panjang diungkapkan:

وَلَكِنْ سَأُحَدِّثُكَ عَنْ أَشْـرَاطِهَا... وَإِذَا كَانَتِ الْعُرُاةُ الْحُفَاةُ رُؤُوْسَ النَّاسِ، فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا.

“Akan tetapi akan aku kabarkan kepadamu tanda-tandanya... yaitu jika orang yang telanjang tanpa alas kaki menjadi pemimpin manusia, maka itulah di antara tanda-tandanya.” [4]

Diriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ: أَنْ يَغْلِبَ عَلَى الدُّنْيَا لُكَعُ ابْنُ لُكَعٍ فَخَيْرُ النَّاسِ يَوْمَئِذٍ مُؤْمِنٌ بَيْنَ كَرِيْمَيْنِ.

‘Di antara tanda-tanda Kiamat adalah orang-orang bodoh menguasai dunia, maka manusia yang paling baik ketika itu adalah seorang mukmin di antara dua orang mulia.’”[5]

Dijelaskan dalam sebuah hadits shahih:

إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

“Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamat.” [6]

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ... أَنْ يَعْلُوَ التُّحُوْتُ الْوَعُوْلَ، أَكَذَلِكَ يَا عَبْدَ اللهِ بْـنِ مَسْعُوْدٍ سَمِعْتَهُ مِنْ نَبِيٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَرَبِّ الْكَعْبَةِ. قُلْنَـا: وَمَا التُّحُوْتُ؟ قَالَ: فُسُـوْلُ الرِّجَالِ، وَأَهْلُ الْبَيْتِ الْغَامِضَةِ يُرْفَعُوْنَ فَوْقَ صَالِحِيْهِمْ. وَالْوَعُوْلُ: أَهْلُ الْبَيْتِ الصَّالِحَة.ُ

“Di antara tanda-tanda Kiamat... at-Tuhuut ada di atas al-Wa-’uul”, apakah demikian kamu mendengarnya diri Nabi wahai ‘Abdullah bin Mas’ud?” Beliau menjawab, “Betul, demi Rabb Ka’bah,” kami bertanya, “Apakah at-Tuhuut itu?” Beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang hina, dan orang dusun yang diangkat di atas orang-orang shalih, sementara al-Wa’uul adalah penghuni rumah yang shalih.” [7]

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى تَصِيرَ لِلُكَعِ ابْنِ لُكَعٍ.

“Tidak akan lenyap dunia sehingga orang-orang pandir menguasainya.” [8]

Maknanya adalah sehingga kenikmatan, kelezatan, dan kehormatan mengarah kepadanya.[9]

Dan dalam riwayat Imam Ahmad dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُونَ أَسْعَدَ النَّاسِ بِالدُّنْيَا لُكَعُ ابْنُ لُكَعٍ.

“Tidak akan datang hari Kiamat hingga manusia yang paling berbahagia dengan dunia adalah orang-orang pandir.” [10]

Dijelaskan dalam ash-Shahiihain dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu anhu yang beliau riwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang hilangnya amanah:

حَتَّى يُقَالَ لِلرَّجُلِ: مَا أَجْلَدَهُ! مَا أَظْرَفَهُ! مَا أَعْقَلَهُ! وَمَا فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ.

“Sehingga dikatakan kepada seseorang, ‘Sungguh kuat! Sungguh cerdas! Dan sungguh cerdik!’ Sementara tidak ada keimanan seberat biji sawi pun.” [11]

Inilah kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin pada zaman sekarang ini. Mereka berkata kepada seseorang, “Sungguh cerdas! Sungguh baik akhlaknya!” mereka mensifati dengan sifat-sifat yang paling indah, padahal mereka adalah manusia paling fasik, paling sedikit agama juga amanahnya. Bisa jadi sebenarnya dia musuh bagi kaum muslimin dan selalu berusaha untuk menghancurkan Islam. Tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa'ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Shahiih al-Bukhari, kitab Akhbaarul Aahaad, bab Maa Jaa-a fii Ijaazati Khabaril Waahidish Shadiq (XIII/232, dalam al-Fat-h).
[2]. الرُّوَيْبِضَةُ diungkapkan tafsirannya di dalam matan hadits, yaitu orang bodoh. Dan الرُّوَيْبِضَةُ bentuk tashgiir dari kata (اَلرَّابِضَةُ), ia adalah orang-orang lemah yang diam tidak bisa melakukan hal-hal mulia, duduk tidak mencarinya dan orang yang hina tidak ada artinya.
Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (II/185).
[3]. Musnad Imam Ahmad (XV/37-38), syarh dan ta’liq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya hasan, dan matannya shahih.”
Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah sanad yang jayyid, dan mereka tidak meriwayatkannya dari jalan ini.” (An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/181). Tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[4]. Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Bayaanul Iimaan wal Islaam wal Ihsaan (I/163, Syarh an-Nawawi).
[5]. Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath dengan dua sanad, dan para perawi salah satu dari keduanya tsiqah.” Majma’uz Zawaa-id (VII/325).
[6]. Shahiihul Bukhari, kitab ar-Riqaaq, bab Raf’ul Amaanah (XI/332, al-Fat-h).
[7]. Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath dengan dua sanad, dan perawi salah satunya adalah tsiqah.” (Majma’uz Zawaa-id VII/325)
[8]. Musnad Imam Ahmad (XVI/284, syarah dan tahqiq Ahmad Syakir), beliau berkata, “Diriwayatkan oleh as-Suyuthi dalam al-Jaami’ush Shaghiir dan beliau memberikan lambang bahwa hadits tersebut hasan.” Al-Jaami’ush Shaghiir (II/200, dengan catatan pinggir Kunuuzul Haqaa-iq, karya al-Manawi).
Al-Haitsami berkata, “Perawi Ahmad adalah perawi ash-Shahiih, selain Kamil bin al-‘Ala, dia adalah tsiqah.” Majma’uz Zawaa-id (VII/220).
Ibnu Katsir berkata, “Sanadnya jayyid dan kuat.” An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/181) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (VI/142) (no. 7149).
[9]. Lihat kitab Faidhul Qadiir Syarh al-Jaami’ish Shagiir (V/394), karya ‘Abdurrauf al-Manawi.
[10]. Musnad Imam Ahmad (V/389, Muntakhab Kanzul ‘Ummal), as-Suyuthi memberikan tanda dalam kitab al-Jaami’ush Shaghiir bahwa hadits tersebut shahih (II/202, Kunuuzul Haqaa-iq, karya al-Manawi).
Al-Albani berkata, “Shahih.” Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (VI/177) (no. 7308).
[11]. Shahiih al-Bukhari, kitab ar-Riqaaq, bab Raf’ul Amaanah (XI/333, al-Fat-h), Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Raf’ul Amaanah wal Iimaan min ba’dil Quluub (II/167-170, Syarh an-Nawawi).

Sumber :  http://almanhaj.or.id/content/3171/slash/0/32-34-lenyapnya-orang-orang-shalih-orang-orang-hina-diangkat-sebagai-pemimpin/

Jangan Terlena Oleh Istidraj

Istidraj by Google
Istidraj - "Kesenangan sesaat yang akan digantikan dengan adzab"
Pernahkah melihat orang-orang yang gemar berbuat dosa tetapi hidup mereka justru terlihat bahagia dan menyenangkan seolah ALLAH melimpahkan nikmatnya untuk mereka. Kenapa hal ini bisa terjadi ? Silahkan simak uraian berikut ini :

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ



“(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS. Luqman: 16).

Baca dan pahami juga ayat yang ini :

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Az Zalzalah: 7-8)

Dzarrah : biji / benda dengan ukuran terkecil.

Jadi, tidak mungkin jika keburukan akan ALLAH balas dengan kebaikan, atau sebaliknya. Yang pasti, kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, keburukan akan dibalas dengan keburukan.

Dari Ubah bin Amir radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ تَعَالى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Apabila Anda melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

(HR. Ahmad, no.17349, Thabrani dalam Al-Kabir, no.913, dan disahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah, no. 414).


Jika ada orang yang berbuat dosa tetapi mendapat kesenangan dan tidak mendapat adzab dari ALLAH maka bisa jadi itu adalah istidraj. Kesenangan tersebut hanyalah kesenangan sesaat di dunia yang akan dibalas / digantikan dengan adzab / siksaan oleh ALLAH baik segera di dunia atau di akhirat.

Istidraj secara bahasa diambil dari kata da-ra-ja (Arab: درج ) yang artinya naik dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya. Sementara istidraj dari Allah kepada hamba dipahami sebagai ‘hukuman’ yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung. Allah biarkan orang ini dan tidak disegerakan adzabnya. Allah berfirman,

سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُونَ

“Nanti Kami akan menghukum mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-Qalam: 44)

Semua tindakan maksiat yang Allah balas dengan nikmat, dan Allah membuat dia lupa untuk beristighfar, sehingga dia semakin dekat dengan adzab sedikit demi sedikit, selanjutnya Allah berikan semua hukumannya, itulah istidraj.

Kenapa ALLAH berbuat demikian ? Kenapa ALLAH tidak memberi hidayah saja dan menyadarkan mereka ?

Itu karena hidayah tidak akan diberikan kepada mereka yang menutup hatinya dan tidak bersedia menerima petunjuk ALLAH, bahkan mereka menjadikan kebaikan yang diajarkan ALLAH sebahai bahan untuk mengolok-olok. Hidayah bisa saja datang kepada orang yang dzolim dan gemar berbuat dosa jika kemudian orang tersebut membuka hatinya untuk menerima petunjuk-petunjuk ALLAH yang terdapat dalam ajaran agama.


Maka istidraj ini tidak datang dengan tiba-tiba. Keputusan Allah memberikan istidraj disebabkan oleh perbuatan dan sikap diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Tidak Beriman
Ketika Allah melimpahkan sebagian harta duniawi kepada hambanya tidak serta merta itu menjadi istidraj kecuali jika ia memang kafir. Maka salah satu penyebab Istidraj adalah penolakan terhadap keimanan yaitu kekafiran. Oleh karena itu harta yang diperoleh orang kafir jelas merupakan istidraj. Karena dengan harta itu orang kafir akan berbangga dengan kekuatan yang ada dalam diri mereka dan saling tolong menolong dalam kekafiran.
Adapun orang kafir sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain (Q.S. Al-Anfaal  [8] : 73)
Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah kamu (di dunia), karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka (Q.S. Ibrahim [14] :30)
 (Dikatakan kepada orang-orang kafir): “Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa.” (Q.S. Al-Mursalat [77] : 46)
biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya (Q.S. Al-An’aam [6] :91)
  1. Syirik
Apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” (Q.S. Az-Zumar [39] :8)
  1. Kemunafikan
Sebab lain terjadinya istidraj ialah kemunafikan. Kemunafikan di sini adalah munafik haqiqi yaitu orang yang berpura-pura masuk Islam sedangkan hatinya sebenarnya tidak menerima kebenaran Islam. Maka orang munafik hakiki sama kedudukannya dengan orang kafir. Dan jika orang munafik itu dilimpahi kelimpahan harta maka janganlah kita iri karena hal itu merupakan istidraj.
Dan apabila kamu melihat mereka(orang munafik) , tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum (karena keelokannya). Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka (karena pandai bicara). Mereka seakan-akan kayu yang tersandar.  Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka  waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (Q.S. Al-Munafiquun [63 ] : 4)
Pada ayat di atas diisyaratkan bahwa istidraj tak hanya berupa harta, namun bisa juga berupa tubuh yang elok dan kefasihan kata-kata atau kepandaian berbicara di depan umum. Sehingga orang-orang menjadi terkesima dan terpengaruh mendengar perkataan mereka. Sedangkan mereka dihinggapi rasa narsis yang akut sehingga mengira bahwa setiap sorak sorai itu ditujukan bagi dirinya. Orang seperti ini mengira setiap orang memperhatikan dirinya, dan dimana saja ia merasa menjadi perhatian orang.
Maka terhadap orang munafik seperti ini Allah justru sengaja membiarkan saja mereka bersenang-senang di dunia dan dilimpahi harta yang banyak, kepandaian, ketenaran, tubuh yang elok (karena banyak harta wajar saja jika mereka mampu merawat tubuhnya dengan berbagai treatment sehingga tubuhnya sangat elok).
  1. Sombong Terhadap Kebenaran
Sombong yang dimaksud di sini adalah sombong yang menyebabkan ia menolak kebenaran. Maka orang seperti ini mungkin saja akan tertimpa istidraj. Maka harta yang ada padanya hanya akan menyebabkan dirinya semakin sombong dan jauh dari kebenaran.
Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu diba lasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik (Q.S. Al-Ahqaaf  [46] :20)
Ibnu mas’ud ia memarfukannya : “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada seberat biji dari kesombongan” Ada seseorang yang bertanya : Sesungguhnya seseorang suka kalau pakaiannya bagus dan terompahnya bagus” Ia (Rasulullah SAW) bersabda : “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan menghina manusia”(H.R. Muslim, Tirmidzi dan Abu Daud)

  1. Hamba Dunia dan Cinta Dunia
dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan(Q.S. Al-Al-Fajr [89] : 15-17)
Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Q.S. At-Taubah  [9] : 24)
Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka. (Q.S. Muhammad [47] :12)
Dan pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka: “Bersenang-senanglah kalian sampai suatu waktu.” (Q.S. Adz-Dzaariyat [51] :43)
Ali bin Abi Thalib r.a. berkata : “Begitulah manusia, bila dunia telah menjadi besar di penglihatnnya, dan mendiami reuang yang luas dalam relung hatinya, niscaya ia akan menilainya lebih besar dari Tuhannya, lalu menjadikan dirinya hamba yang amat patuh padanya..” (Mutiara Nahjul Balaghoh Hal 27)
  1. Memohon Dunia Saja
Sebagian orang ada yang pikirannya terfokus pada keinginan dunia saja. Siang malam ia berusaha mati-matian untuk meraih dunia. Segenap pikiran dan waktunya dicurahkan untuk memperoleh dunia. Akhirat sama sekali terlewat dari pikirannya. Kalaupun ia ingat berdoa, semata memohon keberhasilan dunia.
Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. (Q.S. An-Nisaa[4] : 134)
Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu (di dunia) baginya, dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat (Q.S. Asy-Syuura  [42] :20)
Perhatikanlah ayat di atas, jika Anda mengharapkan akhirat maka Allah akan memberikan akhirat plus ditambah keuntungannya yaitu sebagian nikmat dunia. Sedangkan bagi orang yang hanya mengharapkan dunia, maka hanya sebagian nikmat dunia yang dibukakan sedangkan tak mendapat kenimatan akhirat.
Maka orang seperti ini akan ditimpa istidraj. Yaitu mungkin saja Allah mengabulkan jerih payahnya siang malam meraih dunia itu sehingga tercapailah apa yang dia rencanakan dan dia idam-idamkan. Namun hal itu sama sekali tidak baik baginya. Mengapa? Karena dengan tercapainya apa yang dia inginkan itu akan semakin membuat dirinya lupa pada akhirat dan semakin banyak hartanya semakin sibuk ia dibuatnya.
Ali bin Abi Thalib pernah menasehati Kumail bin Ziyad An-Nakha’iy berkata : “Wahai Kumail ilmu lebih utama dariapada harta, ilmu akan menjagamu sedangkan harta, engkau harus menjaga hartamu” (Nahjul Balaghoh Mutiara Hal 35)
Dari Uqbah bin Amir r.a. Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya demi Allah, aku tidak khawatir kalian akan kembali musyrik sepeninggalku tetapi aku khawatir kalian akan berlomba-lomba dalam kehidupan dunia. (H.R. Muslim No.4248)
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.: Bahwa Rasulullah saw. pada satu hari berada di atas mimbar lalu beliau bersabda: Ada seorang hamba yang diberikan pilihan oleh Allah antara Allah akan memberinya kemewahan dunia atau memberi sesuatu yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu memilih sesuatu yang ada di sisi-Nya. (H.R. Muslim No.4390)
  1. Bakhil dan Kikir
Istidraj juga dapat menimpa orang muslim yang kikir. Bagi orang muslim, berlimpahnya harta adalah sebuah ujian. Dengan kelimpahan harta itu Allah menyuruh untuk menafkahkan sebagian harta tersebut. Tidak seluruhnya namuan hanya “sebagian”.
Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya (Q.S. Al-Hadiid [57] :7)
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (Q.S. Al-Baqarah [2] : 261)
Namun sebagian manusia memang cenderung kikir. Dan bagi orang yang kikir maka kelimpahan harta itu bisa berubah menjadi istidraj yang menjerumuskannya kepada murka Allah.
Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah (Q.S. At-Taubah [9] : 76-77)
Sekiranya manusia memiliki emas sepenuh dua lembah niscaya ia akan mencari yang ketiganya (H.R. Bukhari Muslim)
Dan manusia itu bersifat kikir (Q.S. An Nisaa’ [4] ; 128, Al Israa’ [17] : 100)
  1. Tamak dan Rakus Pada Dunia
Dari Ibnu Umar r.a.berkata : berkata Nabi SAW : Sesungguhnya seorang mukmin makan dengan satu ususu sedangkan si kafir makan dengan tujuh usus (H.R. Bukhari Muslim dalam Alu’lu wal marjan Jilid 2 No 1334)
Dari Abu Hurairah r.a. berkata Rasulullah SAW bersabda : “Dunia ini adalah penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir. Sedangkan akhirat adalah surga bagi mukmin dan penjara bagi kafir (H.R. Tirmidzi No. 2246 Disahihkan oleh Albani)
  1. Tidak Bersyukur
Sebagian orang ditimpa istidraj karena mereka lupa kacang dengan kulitnya dan lupa bersyukur kepada Allah setelah Allah kabulkan doa mereka dan Allah limpahkan apa yang mereka inginkan. Hal ini sebagaimana digambarkan pada ayat berikut ini :
Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan  (Q.S. Yunus [10] : 12)
Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimangan di dalam kesesatan mereka (Q.S. Yunus [10] : 11)
Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya). (Q.S. An-Nahl [16] :55)
Ali bin Abi Thalib pernah berkata mengenai ciri-ciri orang yang tidak bersyukur yaitu : Ia tidak mampu mensyukuri apa yang dikaruniakan kepadanya dan selalu menghendaki tambahan dari apa yang ada pada dirinya. Bila jatuh sakit ia menyesali dirinya tapi bila telah kembali sehat ia merasa aman berbuat sia-sia. (Mutiara Nahjul balaghoh Hal 37)
  1. Tidak  Amanah Terhadap Harta
Sebagian orang ditimpa istidraj karena ia tidak amanah dengan harta yang dilimpahkan Allah padanya. Dia membelanjakan harta itu untuk hal-hal kemaksiatand an tidak digunakan untuk kebaikan.
mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (di dunia). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). (Q.S. Al-Ankabut [29] :66)
mereka mengingkari rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu). (Q.S. Ar-Ruum [30] :34)
Dunia dihuni empat ragam manusia. Pertama, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan dan ilmu pengetahuan lalu bertakwa kepada Robbnya, menyantuni sanak-keluarganya dan melakukan apa yang diwajibkan Allah atasnya maka dia berkedudukan paling mulia. Kedua, seorang yang diberi Allah ilmu pengetahuan saja, tidak diberi harta, tetapi dia tetap berniat untuk bersungguh-sungguh. Sebenarnya jika memperoleh harta dia juga akan berbuat seperti yang dilakukan rekannya (kelompok yang pertama). Maka pahala mereka berdua ini adalah (kelompok pertama dan kedua) sama. Ketiga, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan tetapi tidak diberi ilmu pengetahuan. Dia membelanjakan hartanya dengan berhamburan (foya-foya) tanpa ilmu (kebijaksanaan). Ia juga tidak bertakwa kepada Allah, tidak menyantuni keluarga dekatnya, dan tidak memperdulikan hak Allah. Maka dia berkedudukan paling jahat dan keji. Keempat, seorang hamba yang tidak memperoleh rezeki harta maupun ilmu pengetahuan dari Allah lalu dia berkata seandainya aku memiliki harta kekayaan maka aku akan melakukan seperti layaknya orang-orang yang menghamburkan uang, serampangan dan membabi-buta (kelompok yang ketiga), maka timbangan keduanya sama. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
  1. Melakukan Kezhaliman Terus Menerus
Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya (Q.S. Al-humazah [104] :1-3)
Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya; maka itulah tempat kediaman mereka yang tiada di diami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebahagian kecil  (Q.S. Al-Qashash [28] :58)
Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah ke- nikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (Q.S. Al-Qashash [28] :60)
Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw, lalu berkata, “Hai Muhammad, hiduplah sesukamu namun engkau pasti mati. Berbuatlah sesukamu namun engkau pasti akan diganjar, dan cintailah siapa yang engkau sukai namun pasti engkau akan berpisah dengannya. (H. Ath-Thabrani)
  1. Lupa Diri
Harta dan kenikmatan dunia itu pada asalnya adalah sesuatu yang dibolehkan, dan merupakan salah satu nikmat dari Allah. Tak ada yang mengharamkan perhiasan dunia dan menghalangi orang dari meraihnya.
Namun harta dan kenikmatan dunia itu berpotensi membuat orang lupa diri dan hanya sedikit sekali orang yang selamat dari godaan dunia.
Maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku (Q.S. Shaad  [38] : 32)
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa (Q.S. Al-An’aam [6] : 44)
Demi Allah, bukanlah kemelaratan yang aku takuti bila menimpa kalian, tetapi yang kutakuti adalah bila dilapangkannya dunia bagimu sebagaimana pernah dilapangkan (dimudahkan) bagi orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian saling berlomba sebagaimana mereka berlomba, lalu kalian dibinasakan olehnya sebagaimana mereka dibinasakan. (H.R. Ahmad)
  1. Merasa Semua Berjalan Sesuai Planning
Sebagian orang diberi harta, kedudukan, dan dibukakan berbagai kenikmatan dan keleluasaan di dunia pada mulanya sebagai ujian. Dan sebagian orang diwujudkan oleh Allah segala apa  yang direncanakannya dan segala apa yang dicita-citakannya. Maka orang itu kemudian merasa tidak ada campur tangan Allah dalam hal ini dan semua terwujud berkat upaya dirinya dan berkat kepandaiannya.
Qarun berkata : Sesungguhnya aku memiliki harta itu karena ilmu yang ada padaku (Q.S. Al-Qashash : 78)
Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu(Q.S. An-Nisaa’ [4] : 115)
Dan apakah ia (Qorun) tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (Q.S. Al-Qashash [28] : 78) (Abu Akmal Mubarok)
Back to top