Pesan Dakwah

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya” {HR. Muslim}

Cobalah Hujan-Hujanan Bagi Pasangan Suami Istri yang Ingin Memiliki Anak

Allah Subhanahu Watala menurunkan dari langit air yang berkah, hujan itu air berkah, maka laksanakanlah sunnah hujan-hujanan.

Diantara a’mal para Salafusholih, mereka yang kesulitan memiliki keturunan disarankan main hujan-hujanan berdua suami istri.

Dalilnya apa? Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ar Rum ayat 24 yang berbunyi:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ مِنۢ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ ۚ قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.”

Kita ini diciptakan oleh Allah dari apa? Tanah kan. unsur bumi yang paling dominan.

Maka kalau kemudian Allah belum menganugerahkan karunia anak, boleh jadi ada bagian-bagian dari tubuh kita perlu dihidupkan oleh air yang turun dari langit.

Jadi main hujan-hujanan berdua suami istri, kalau bisa dilakukan ditempat yang agak tertutup, mungkin dirumah yang pagar dalam yang tidak terlihat dari luar. Kemudian menengadahkan mulut ke langit, kemudian memohon karunia Allah Subhanahu Wata’ala. Air hujan yang turun dari langit kemudian diminum. Setelah hujan-hujanan bisa dilanjutkan dengan aktivitas suami istri lainya.

Hujan-hujanan ini tidak diingkari oleh para ulama, mereka menyatakan bahwa dalilnya jelas bahwa hujan itu berkah dan hujan itu menumbuhkan, menghidupkan apa yang sebelumnya mati. Dalam surat Nuh Ayat 12-13 Allah juga berfirman : “niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat(11), dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai(12)”.
Maka kaitan ini sangat dekat, sehingga dengan demikian selain memperbanyak Istighfar, bagi pasangan suami istri yang ingin dikaruniai putra putri, cobalah hujan-hujanan.


Sumber :  Ustadz Salim A Fillah
https://islamedia.id/ustadz-salim-a-fillah-bagi-pasangan-suami-istri-yang-kesulitan-memiliki-keturunan-coba-hujan-hujanan/ 

https://www.facebook.com/islamedianews/videos/1288107284554680/

Channel Telegram Magnet Rezeki Ustadz Nasrullah Sebagai Solusi Kehidupan

Bagaimana cara kita menyikapi hidup dengan banyaknya permasalahan, apakah itu hutang, piutang atau rezeki yang kita tunggu-tunggu tak kunjung datang ?

Baca :  Terbukti Aplikasi Android Cashtree Memberi Pulsa HP Gratis dan Bonus

Coba lah ikuti Channel Magnet Rezeki ini di Telegram
Channel Magnet Rezeki ini dipimpin langsung oleh penemu konsep nya Ust Nasrullah, Beliau berhasil menemukan konsep dan menjabarkan nya secara detail dengan contoh dan cara mengaplikasi kannya.

Beliau membagikan ilmu nya gratis, hanya melalui aplikasi telegram, dengan disertai tulisan, audio, foto serta sket diagram.

Insya Allah sangat bermanfaat buat solusi kehidupan khususnya mengenai rezeki yang datang dari Allah.

Cara bergabung ke channel Magnet Rezeki :
1. Install aplikasi telegram dari playstore atau appstore.
2. Masukkan nomor telepon Anda untuk verifikasi, sama seperti whatsapp.
3. Ditombol "Search" ketik @rahasiamagnetrezeki
4. Klik dan masuk
5. Klik (join)
6. Selesai dan anda akan menikmati setiap update dari channel tersebut.

Untuk mendengarkan seluruh audio bisa bergabung ke channel telegram : @audiomagnetrezeki
Daftar Audio yang bisa didengar :
1.  Landasan Magnet Rezeki
2.  Perisai Rezeki
3.  Konsep Dasar Magnet Rezeki
4.  Law of Projection
5.  Lunas Hutang Seketika
6.  Paradox of Candy
7.  Jendela Buram
8.  Khoirur Rooziqiin
9.  Tips Jeruk Nipis
10. Cicak dan Jerapah
11. Lain Ladang Lain Ilalang
12. Sakinah Selamanya
13. Kick Back
14. Ilmu Garpu Tala
15. Merawat Terumbu Karang
16. Menarik Piutang
17. Cacat yang Sempurna
18. Jika Dizalami
19. Jodoh Terbaik
20. Cara cepat dapat Anak
21. Detox Rezeki
22. Rahasia Keajaiban
23. Jurus Kerangkeng Uang
24. Puncak Keajaiban
25. Cermin Ajaib
26. Rezeki Gratis
27. Frekuensi Rezeki
28. Leverage Rezeki
29. Garis Kebenaran-1
30. Garis Kebenaran-2
31. Disiplin Kata
32. Perusahaan Allah
33. Koq belum Ajaib
34. Definisi Dunia
35. Goa Keajaiban-1
36. Goa Keajaiban-2
37. Langkah Keajaiban
38. Nafsi-Nafsi

Website resmi nya : http://rahasiamagnetrezeki.com

8 Macam Rezeki Datang Dari Allah SWT

Syukur Alhamdulillah kita masih diberi nikmat umur, sehat dan rezeki dari Allah SWT. Orang yang beriman pada Allah pasti percaya bahwa rezeki itu datangnya dari Allah, namun yang tidak beriman yakin bahwa semua usaha, kepintaran dan modal itulah yang menghasilkan rezeki. Bila kita baca Al-Quran terdapat 8 macam rezeki yang datang dari Allah untuk umatnya.
1. Rezeki yang telah dijamin.
"Tidak ada satu mahluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin Allah rezekinya" (Q.S.11:6)

2. Rezeki karena Usaha.
"Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya"
(Q.S.53:39)

3. Rezeki karena bersyukur.
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu"
(Q.S. 14:7)

4. Rezeki Tak Terduga.
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya"
(QS. At Thalaq :2)

5. Rezeki Karena Istighfar.
"Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta”
(QS. 71 : 10-11)
6. Rezeki Karena Menikah.
"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kemapanan kepada mereka dengan karunia-Nya.”
(QS. an-Nur : 32)

7. Rezeki Karena Anak.
"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.”
(QS. al-Isra 31)

8. Rezeki Karena Sedekah.
"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan
lipatan yang banyak"
(QS. Al Baqarah 245)

Berbagai Manfaat Makan Dengan Tangan

Bagi sebagian orang makan menggunakan tangan memang sudah tak lazim. Dengan berbagai alasan seperti kurang sopan dan kurang higienis, menjadi alasan mereka lebih memilih makan menggunakan sendok. Tapi, tahukah Anda ternyata ada banyak manfaat kesehatan yang bisa Anda dapatkan dari makan menggunakan tangan?
Berikut beberapa manfaat kesehatan yang dapat Anda dapatkan dari makan menggunakan tangan sebagaimana dilansir Healthmeup.

Memicu Otak Mempersiapkan Enzim yang Tepat
Tidak seperti ketika menggunakan sendok atau garpu, makan menggunakan tangan akan membuat  jari-jari Anda mengontak langsung makanan sebelum memasukkannya ke dalam mulut Anda. Ujung saraf Anda di jari-jari Anda dapat merasakan suhu dan tekstur makanan, sehingga dapat mempersiapkan otak untuk mengenali jenis makanan yang akan Anda makan. Otak akan melepaskan cairan pencernaan dan enzim yang tepat setelah merasakan makanan yang Anda sentuh. Selain itu, Anda juga dapat terhindar dari suhu panas makanan karena jari-jari Anda telah merasakan sebelum memasukkan ke dalam mulut.
Mengandung Bakteri Baik
Tubuh kita memiliki jenis bakteri tertentu yang dapat melindungi kita dari bakteri berbahaya di lingkungan. Bakteri ini berada di tempat-tempat seperti kami tangan, mulut, tenggorokan, usus, dan sisanya di sistem pencernaan kita. Saat Anda makan dengan tangan, bakteri baik tersebut akan ikut masuk ke dalam tubuh kita untuk melindungi berbagai macam bakteri jahat.  Tentu saja, penting bagi Anda untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah Anda makan, untuk memastikan tangan Anda tetap bersih dan higienis.

Lebih Merasakan Nikmatnya Makanan
Ketika Anda makan dengan menggunakan tangan, Anda dapat benar-benar memperhatikan apa yang Anda makan. Tidak hanya Anda membuat nafsu makan Anda menjadi lebih baik, Anda juga dapat lebih menikmati makanan tersebut daripada saat Anda makan menggunakan sendok dan garpu. Anda juga lebih menyadari seberapa banyak makanan yang Anda konsumsi sehingga dapat mencegah makan terlalu berkebihan yang akan berujung pada obesitas.

Surat Ali Imran Ayat 26-27 Doa melunasi Hutang dan Meluaskan Rezeki

Dalam hidup ini, kadang kita tak mampu menghadapi semua persoalan hidup yang sangat berat, apalagi bila persoalan terlilit hutang yang makin lama, semakin menggunung. Dan yang menagih pun tidak mau tau alasan kita.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Rasulullah SAW menegur sahabat Muaz bin Jabal.
“Aku tidak melihatmu di masjid semalam," Rasulullah SAW menegur Sayidina Muaz Bin Jabal r.a. selepas selesai berjamaah sholat dzuhur.

"Maafkan aku, wahai Rasulullah. Aku tidak menunaikan sholat semalam. Saat dalam perjalanan ke masjid, aku telah bertemu dan dikurung oleh seorang Yahudi di rumahnya dan tidak perbolehkan ke mana-mana" jawab Saidina Muaz.

"Kenapa?" tanya Rasulullah SAW.

"Aku telah banyak berhutang kepadanya," ujar Sayidina Muaz. "Sehinggalah aku merayu dan berjanji akan melunasi hutang apabila mendapat uang,"

Rasulullah SAW tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Sayidina Muaz dan berkata, "Aku ajarkan kepadamu dua potong ayat. Jika engkau mau mengamalkannya, Allah akan meluaskan rezekimu untuk melunasi semua hutangmu, walaupun hutangmu sebesar gunung banyaknya."

"Mau..ya Rasulullah," jawab Saidina Muaz bersungguh-sungguh.

Rasulullah SAW pun membacakan dua ayat al-Quran yang sudah kami paparkan diatas, yakni QS Ali Imran Ayat 26-27. Dan Sayidina Muaz mendengarnya dengan cermat dan teliti, dan menjadikan ayat tersebut sebagai wirid harian hingga Allah SWT mengabulkan doanya melunasi hutang dan meluaskan rejeki baginya.

Surat Ali Imran (QS.3) Ayat 26

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Qulillahumma maalikal mulki tu'tiil mulka man tasyaa-u watanzi'ul mulka mimman tasyaa-u watu'izzu man tasyaa-u watudzillu man tasyaa-u biyadikal khairu innaka 'ala kulli syai-in qadiirun.

"Katakanlah: 'Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." – (QS.3:26)
Surat Ali Imran (QS.3) Ayat 27

تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Tuulijullaila fiinnahaari watuulijunnahaara fiillaili watukhrijul hai-ya minal mai-yiti watukhrijul mai-yita minal hai-yi watarzuqu man tasyaa-u bighairi hisaabin.

"Engkau masukkan malam ke dalam siang, dan Engkau masukkan siang kepada malam. Engkau keluarkan (menjadikan) yang hidup dari yang mati (ditiupkan-Nya ruh), dan Engkau keluarkan (menjadikan) yang mati dari yang hidup (diangkat-Nya ruh). Dan Engkau beri rejeki, siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)'." – (QS.3:27)

Semoga Allah SWT selalu memberi curahan rezeki, melunasi hutang kita yang menumpuk dan mengampuni dosa kita dan dosa kedua orangtua kita. Aamiin.

Surat Al Baqarah 3 Ayat Terakhir Sebagai Doa Penolong

Surat al-Baqarah 3 ayat terakhir dan terjemah Indonesia

(284)  Lillahi maafis-samaawaati wa maa fil-ardh.
Wa in tubduu maa fi anfusikum au tukhfuuhu yuhaa sibkum bihi-llah.
Fayaghfiru lima yasyaa-u wa yu’adz-dzibu ma-yasyaa.
Wallaahu ‘alaa kulli syai-in qodiir.


(284) Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya, Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(285)  Aamanar-rosuulu bimaa-unzila ilaihi mir robbihi wal-mu’minuun.
Kullun aamana billahi wa mallaaikatihi wa kutubihi wa rusulih.
Laa nufarriqu baina ahadim mir-rusulih.
Wa qooluu sami’naa wa atho’naa. ghufroo naka robbanaa wa ilaikal-mashiir.


(285) Rasul Telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, Dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.

(286)  Laa yukallifu-llaahu nafsan illa wus’ahaa.
Lahaa maa kasabat wa ‘alaiha maaktasabat.
Robbanaa laa tu-aakhidznaa in-nasiinaa au akhtho’naa.
Robbanaa wa laa tahmil ‘alainaa ishron kamaa hamaltahu, ‘alal-ladziina min qoblinaa.
Robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thoo-qotalanaa bih
Wa’fu’anna waghfirlanaa warhamnaa.
Anta maulaanaa fanshurnaa ‘alal-qoumil-kaafiriin.



(286) “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau  kami tersalah. Ya  Tuhan  kami,  janganlah  Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau  bebankan  kepada  orang-orang  sebelum  kami. Ya Tuhan kami,  janganlah  Engkau  pikulkan  kepada  kami apa yang  tak  sanggup  kami  memikulnya. Ma’afkanlah  kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Dari Ibnu Mas’ud ra, Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Barang siapa membaca Ayat Kursi, serta ayat terakhir dari QS. Al-Baqarah, maka rumahnya tidak akan dimasuki oleh syetan sampai pagi.” [HR. At-Thabrani dalam kitab Al-Kabir dan Al-Hakim dalam shahihnya]

Doa untuk Meringankan Beban Hidup yang Terasa Berat

Alur kehidupan selalu berubah. Ada kalanya terasa ringan, namun tidak jarang terasa berat.

Dalam satu waktu, ada saatnya manusia mendapat masalah yang bertubi-tubi. Berusaha menyelesaikan, justru datang masalah lain yang semakin memberatkan.

Dalam kondisi seperti itu, seorang muslim dituntut untuk memohon keringanan kepada Allah SWT. Saat menghadapi beratnya beban hidup, dianjurkan untuk bersabar dan memanjatkan doa ini, yang terkandung dalam Surat Al Baqarah ayat 286.

"Rabbanaa laa tu’aakhidznaa in nasiinaa au akhtha’naa. Rabbanaa wa laa tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltahuu ‘alaa alladziina min qablina. Rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thaa qatalanaa bihi. Wa’fu’annaa, waghfirlanaa, warhamnaa, anta maulaanaa fanshurnaa ‘alaa al-qaumi al-kaafiriin."

Artinya:
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat, sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."

dream.co.id 

3 Waktu Mustajab Terkabulnya Doa di Bulan Ramadhan

Puasa di bulan Ramadhan itu sangat istimewa. Selain nilai ibadah dilipatgandakan, doa-doa yang dipanjatkan pun mudah diterima oleh Allah SWT.

Namun tahukan Anda, ada waktu-waktu mustajab untuk berdoa di bulan Ramadan? Pada waktu-waktu itulah doa-doa mudah dikabulkan.

Menurut para ulama, ada beberapa waktu waktu utama terkabulnya doa di bulan Ramadan. Yaitu pada waktu sahur, saat berpuasa, dan saat berbuka.

1. Waktu sahur
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; "Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, "Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758).
Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, "Doa dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan." (Fath Al-Bari, 3: 32).

2. Saat berpuasa
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; "Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi." (HR. Ahmad 2: 305. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan berbagai jalan dan penguatnya)
Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Disunnahkan orang yang berpuasa untuk memperbanyak doa demi urusan akhirat dan dunianya, juga ia boleh berdo’a untuk hajat yang ia inginkan, begitu pula jangan lupakan do’a kebaikan untuk kaum muslimin secara umum.” (Al-Majmu’, 6: 273)

3. Ketika berbuka puasa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; "Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Doa orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526, 3598 dan Ibnu Majah no. 1752. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Dalam Tuhfah Al-Ahwadzi (7: 278) disebutkan bahwa kenapa doa mudah dikabulkan ketika berbuka puasa yaitu karena saat itu, orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

Baca Dua Ayat Ini Tiap Malam, Insya Allah Rezekimu Lancar Dan Berlimpah

Percaya tidak ada dua ayat di dalam Al Qur’an yang jika dibaca setiap malam maka orang yang membacanya akan diberikan kecukupan. Dahsyat nya 2 ayat ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
“Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah pada malam hari, niscaya ia tercukupi.” (HR. Bukhari dan Muslim)Dalam Nuzhatul Muttaqin syarh Riyadhush Shalihin, Syaikh DR Mustofa SaidAl Khin, Syaikh DR Mustofa Al Bugho, Syaikh Muhyidin Mistu, Syaikh AliAsy Syirbaji dan Syaikh Muhammad Amin Luthfi menerangkan bahwa salah satu makna tercukupi dalam hadits ini adalah tercukupi keperluan dunia dan akhiratnya serta terhindarkan dari semua keburukan.Hadits ini pula yang dicantumkan oleh Ibnu Katsir saat menjelaskan keutamaan dua ayat terakhir surat Al Baqarah ini dalam tafsirnya. Dua ayat terakhir dalam surat Al Baqarah tersebut tidak lain adalah QS. Al Baqarah: 285-286
firman-Nya:
آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِا للَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا
سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ  

“Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an) dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan seseorang pun di antara rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”
Wallahu a’lam bish shawab.
http://www.islamberdakwah.com/2016/03/baca-dua-ayat-ini-tiap-malam-insya.html

Doa yang disunnahkan di Kala Hujan

Musim hujan tengah mengurung kita. Banjir bisa berpeluang terjadi kapan saja. Setiap kali mendung menggantung, setiap itu pula hati kita semua berdebar. Bukankah bagaimana pun bencana bisa saja datang tiba-tiba?

Di musim hujan, banyak kebaikan bisa kita lakukan. Banyak hal yang disunnahkan Nabi SAW.

Bahwasannya Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam apabila melihat hujan turun,
beliau berdoa : Allahumma shayyiban naafian (Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat bagi kami)" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1032].

Bagaimana jika hujan deras?
Maka Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam berdoa : Allahumma hawaalainaa wa laa alainaa (ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan kepada kami sehingga membahayakan kami)".
Anas berkata : "Sungguh aku melihat awan berpencar ke kanan dan kiri, lalu hujan turun namun tidak menghujani penduduk Madinah" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 969].

Apabila kita mendengar gelegar petir disunnahkan membaca doa:
Subhaanalladzii yusabbihur-radu bi-hamdihi wal-malaaikatu min khiifatih (Maha Suci Allah, Dzat yang guruh itu bertasbih dengan memuji-Nya, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya)".
[Diriwayatkan Imam Maalik dalam Al-Muwaththa 4/524-525 no. 2019; shahih].

http://mozaik.inilah.com/read/detail/2177280/doa-doa-yang-disunnahkan-kala-hujan

Cara Allah Memberi Rezeki Kepada Makhluk-Nya

Ada 4 cara Allah memberi rezeki kpd makhluk-Nya:

(Baca : Sifat Istri yang Mendatangkan Rezeki bagi Suaminya)

1. REZEKI TINGKAT PERTAMA (YANG DIJAMIN OLEH ALLAH)
"Tidak suatu binatangpun (termasuk manusia) yg bergerak di atas bumi ini yg tdk dijamin oleh Allah rezekinya."(QS. 11: 6)
Artinya Allah akan memberikan kesehatan,makan,minum utk seluruh makhluk hidup di dunia ini. Ini adalah rezeki dasar yg terendah.

2. REZEKI TINGKAT KEDUA
"Tidaklah manusia mendapat apa-apa kecuali apa yg telah dikerjakannya" (QS. 53: 39)
Allah akan memberikan rezeki sesuai dengan apa yg dikerjakannya. Jika ia bekerja dua jam, dapatlah hasil yg dua jam. Jika kerja lebih lama, lebih rajin, lebih berilmu, lebih sungguh2, ia akan mendapat lebih banyak. Tdk pandang dia itu muslim atau kafir.

3. REZEKI TINGKAT KETIGA
“... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. 14: 7)
Inilah rezeki yang disayang Allah. Orang2 yg pandai bersyukur akan dapat merasakan kasih sayang Allah & mendapat rezeki yg lebih banyak. Itulah Janji Allah! Orang yg pandai bersyukurlah yg dapat hidup bahagia, sejahtera & tentram. Usahanya akan sangat sukses, karena Allah tambahkan selalu.

4. REZEKI KE EMPAT
(UNTUK ORANG2 BERIMAN DAN BERTAQWA)
".... Barangsiapa yg bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yg tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yg bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap2 sesuatu.”
(QS.Ath-Thalaq/65:2-3)

Peringkat rezeki yg ke empat ini adalah rezeki yg istimewa, tidak semua orang bisa meraihnya. Orang istimewa ini (orang-orang yg bertaqwa) adalah orang yg benar2 dicintai & dipercaya oleh Allah utk memakmurkan atau mengatur kekayaan Allah di bumi ini.

Baca juga profil wanita muda cantik segudang prestasi :
https://www.facebook.com/pages/Mukjizat-Sholat-Dan-Doa/246320798295?fref=nf

7 Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir

Amal Jariyah adalah sebutan bagi amalan yang terus mengalir pahalanya, walaupun orang yang melakukan amalan tersebut sudah wafat. Amalan tersebut terus memproduksi pahala yang terus mengalir kepadanya.
Hadis tentang amal jariyah yang populer dari Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

"Apabila anak Adam (manusia) wafat, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu sedekah jariah, ilmu yang berman faat, dan anak saleh yang mendoakannya" (HR. Muslim).

Selain dari ketiga jenis perbuatan di atas, ada lagi beberapa macam perbuatan yang tergolong dalam amal jariah.

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya diantara amal kebaikan yang mendatangkan pahala setelah orang yang melakukannya wafat ialah ilmu yang disebar luaskannya, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf (kitab-kitab keagamaan) yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah yang dibangunnya untuk penginapan orang yang sedang dalam perjalanan. sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang banyak, dan harta yang disedekahkannya” (HR. Ibnu Majah).

Di dalam hadis ini disebut tujuh macam amal yang tergolong amal jariah sebagai berikut :
1. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal, seperti diskusi, ceramah, dakwah, dan sebagainya. Termasuk dalam kategori ini adalah menulis buku yang berguna dan mempublikasikannya.

2. Mendidik anak menjadi anak yang saleh. Anak yang saleh akan selalu berbuat kebaikan di dunia. Menurut keterangan hadis ini, kebaikan yang diperbuat oleh anak saleh pahalanya sampai kepada orang tua yang mendidiknya yang telah wafat tanpa mengurangi nilai/pahala yang diterima oleh anak tadi.

3. Mewariskan mushaf (buku agama) kepada orang-orang yang dapat memanfaatkannya untuk kebaikan diri dan masyarakatnya.

4. Membangun masjid. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi SAW, ”Barangsiapa yang membangun sebuah masjid karena Allah walau sekecil apa pun, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Orang yang membangun masjid tersebut akan menerima pahala seperti pahala orang yang beribadah di mas jid itu.

5. Membangun rumah atau pondokan bagi orang-orang yang bepergian untuk kebaikan. Setiap orang yang memanfaatkannya, baik untuk istirahat sebentar maupun untuk bermalam dan kegunaan lain yang bukan untuk maksiat, akan mengalirkan pahala kepada orang yang membangunnya.

6. Mengalirkan air secara baik dan bersih ke tampat-tempat orang yang membutuhkannya atau menggali sumur di tempat yang sering dilalui atau didiami orang banyak. Setelah orang yang mengalirkan air itu wafat dan air itu tetap mengalir serta terpelihara dari kecemaran dan dimanfaatkan orang yang hidup maka ia mendapat pahala yang terus mengalir.

Semakin banyak orang yang memanfaat kannya semakin banyak ia menerima pahala di akhirat. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa membangun sebuah sumur lalu diminum oleh jin atau burung yang kehausan, maka Allah akan mem berinya pahala kelak di hari kiamat.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Majah).

7. Menyedekahkan sebagian harta. Sedekah yang diberikan secara ikhlas akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda.

Subhanallah...
Sahabatku Yang dimuliakan Allah,

https://www.facebook.com/pages/Mukjizat-Sholat-Dan-Doa/246320798295?fref=nf

Doa untuk Melunasi Hutang yang Bertumpuk

Apakah dirimu sedang terlilit hutang, yang rasa-rasanya tak sanggup untuk melunasinya. Sebenarnya Rasulullah telah mengajarkan kepada kita, bagaimana cara dan doa agar hutang kita segera terlunasi.

Suatu saat Rasulullah memasuki masjid, dan beliau mendapati seseorang duduk terdiam di dalamnya. Rasulullah bertanya kepadanya, Wahai Abu Umamah! Mengapa engkau berdiam di sini sedangkan ini bukan waktu salat? Abu Umamah menjawab, Ya Rasulullah! Saya sedang risau dililit utang.

Lalu Rasulullah bertanya kepadanya, Maukah aku ajarkan kepadamu sebuah doa yang apabila engkau membacanya, maka Allah SWT akan melepaskan kerisauan dan membayarkan utangmu? Abu Umamah menjawab, Mau, ya Rasulullah.

Rasulullah bersabda, Bacalah doa ini pada waktu pagi dan sore hari: Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazani, wa a'udzubika minal 'ajzi wal kasali, wa a'udzubika minal jubni wal bukhli, wa a'udzubika min ghalabatiddaini wa qahrirrijali."

Yang artinya: Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan kegelisahan, dan saya berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan saya berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan bakhil (kikir), dan saya berlindung kepada-Mu dari cengkeraman utang dan penindasan.

Jadi, doa itu sebetulnya pemandu amal. Seperti yang terbaca dalam doa tersebut, kalau kita mau lepas dari lilitan utang, maka yang pertama diminta adalah supaya kita tidak bingung. Tidak bingung ini artinya yakin bahwa yang paling penting kita harus benar-benar yakin dulu, hanya Allah satu-satunya pemberi rezeki. Bila hati ini masih menganggap ada pemberi rezeki selain-Nya, berharap rezeki kepada makhluk, pasti bingung.

Sesudah lepas dari kebingungan, Rasulullah saw mengajarkan untuk memohon dilepaskan dari kegelisahan atau kesedihan. Artinya, hati ini harus mantap menghadap kepada Allah, serta zikir dan ibadah harus kuat.Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. ar-Rad [13]: 28). Kita harus patuh kepada Allah.

Kemudian kita diajarkan memohon agar tidak lemah dan malas. Jadi, kalau mau utang lunas, maka harus mendobrak diri dan harus kuat. Kita memohon agar diberi kekuatan untuk berikhtiar dengan maksimal dalam hidup ini. Tidak boleh menjadi pengecut. Artinya, kalau ada yang datang menagih, harus dihadapi.

Jadi, jangan risau kalau memiliki utang. Periksa terlebih dulu, untuk apa kita berutang. Misalkan, apakah itu utang produktif atau konsumtif? Jika kita banyak utang konsumtif, maka itu tidak jauh dari nafsu ingin dinilai orang. Seperti membeli ponsel baru di saat yang lama masih bagus. Padahal ponsel bukan nasi yang bisa basi.

Atau, cicilan motor. Mohon maaf jika saudara termasuk yang mencicil. Tidak usah merasa tertekan. Kalau sekarang sudah dicicil, berupayalah tetap tenang dan kuat untuk melunasi. Tapi untuk ke depannya, mari kita lebih hati-hati lagi.

Karena ada cicilan yang memang perlu, dan ada yang sebetulnya tidak perlu. Yang memang perlu adalah cicilan yang benar-benar bermanfaat dan manfaatnya pun lama. Tapi yang tidak perlu itu disebabkan ingin atau nafsu, dan apa yang diinginkan pun walau ada manfaatnya hanya sebentar.

Orang-orang miskin hati biasanya mempunyai banyak keinginan. Seperti saat menginginkan motor, semuanya akan dilakukan. Ijazah, kartu keluarga, akta kelahiran, dan kuitansi kontrakan rumah juga diberikan sebagai persyaratan. Setelah motor didapat, sekadar dipakai keliling kampung, dan pulangnya masuk angin. Baru beberapa minggu sudah bosan. Padahal cicilannya dihitung dalam satuan tahun.

Begitu pula dengan ibu-ibu yang menginginkan alat pengolah makanan. Suamiku, cicilan 24 kali tidak ada artinya dibanding makanan yang akan terproses dengan baik, dan pencernaan jadi bagus. Lalu, sejak hari pertama mulailah mengolah buah-buahan seperti apel. Makanan yang biasanya sebulan sekali, dibeli setiap pagi. Sehingga baru seminggu, anggaran dapur sebulan sudah habis. Kemudian mesin pengolah makanan itu dicuci dan disimpan di atas lemari, sambil menghitung 23 bulan lagi penderitaan akibat cicilan.

Jadi saudaraku, jangan bingung, sedih, dan gelisah kalau kita dililit utang. Benar-benar tancapkan dalam hati bahwa hanya Allah yang memberi rezeki. Memohonlah kepada-Nya agar diberi kekuatan untuk maksimal berikhtiar, dan tidak menjadi pengecut.

Kalau sudah dilunasi oleh Allah, atau kita sudah diberi rezeki, bersyukurlah dengan berbagi. Tidak boleh kikir. Jangan malah rezeki itu kembali dipakai sebagai uang muka untuk mencicil barang-barang yang manfaatnya hanya sebentar.

http://site.inilah.com/inilahkehidupan/read/berita/2228796/doa-lunas-utang#.VcuPyPmPvJG

Mengapa Engkau Masih Pesimis Menghadapi Hidup Ini?

Ada beberapa orang yang dalam hidupnya memiliki harapan tidak berujung. Selalu optimis adalah kebiasaannya. Tersenyum dan tetap semangat sepanjang harinya.

Ada beberapa orang yang dalam hidupnya tak memiliki ujung harapan sama sekali. Pesimis adalah sikap hidupnya. Gelisah dan selalu mengeluh sepanjang harinya.

Bagi yang masuk golongan kedua, coba renungkan ayat berikut ini yang menurut saya sangat memotivasi kita untuk tetap memiliki keyakinan akan hadirnya keajaiban dalam hidup jika Allah berkehandak.

Dalam surat Ali Imron Allah berfirman yang artinya "Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada orang yang dikehendakiNya dengan tidak disangka-sangka."

Redaksi yang hampir sama ada di beberapa ayat atau surat yang lain yang berbunyi: "Dan Allah memberikan rizki pada orang yang dikehendakiNya tanpa disangka-sangka."

Rizki itu bukan hanya berupa harta, bisa jadi berupa kesehatan, pangkat jabatan, pertolongan dalam setiap urusan, dan lain sebagainya. Dalam ayat tersebut di atas ada tiga kata kunci "Allah," "Orang yang dikehendakiNya" dan "Tanpa disangka-sangka." Siapapun kita berhak mendapatkan sesuatu yang tidak disangka-sangka dari Allah. Dekati saja Dia.

Masih pesimis? Lalu dengan apa lagi saya meyakinkanmu sementara ayat al-Qur'an sudah tidak engkau yakini? Tersenyumlah dan semangatlah, serta katakan: "Bismillahi Allaahu Akbar."

Baca juga profil wanita muda cantik segudang prestasi :
(mozaik.inilah.com)

Al-Wahhab, Allah Maha Pemberi


“WAHAI Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami pada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Mahapemberi.” (QS. li ‘Imrn [3]: 8).

Al-Wahhb, Allah Yang Mahapemberi. Maknanya, Allah yang memberi beragam karunia, yang melimpah ruah dan terus menerus. Tidak ada yang mampu memberi seperti itu, kecuali Yang Mahamemiliki segalanya. Dan setelah diberikan, Ia tidak lantas menjadi kekurangan. Hanya Allah SWT.

Sebenarnya Allah telah memberikan karunia kepada kita sejak sperma dan sel telur bertemu. Ketika di rahim ibu terjadi pembelahan sel secara sistematis. Di tempat yang kecil dan tersembunyi tersebut, sel demi sel berubah hingga akhirnya kita dilahirkan. Siapakah yang mengurus selama proses itu? Yang Mahapemberi.

Dokter pun tidak tahu bagaimana pembelahan sel di rahim berlangsung. Ibarat pembangunan sebuah masjid. Kita dapat membayangkan, bisakah dari sebuah batu-bata membelah dirinya sendiri menjadi pondasi, tembok, atap sampai menjadi masjid? Tanpa ada perencanaan pembangunan, serta kita yang membangunnya.

Ketika dilahirkan, kita diberi-Nya hidayah insting dan juga indera. Saat lahir kita langsung menangis. Kemudian bisa memperoleh ASI hingga badan kita gemuk. Bisa memanggil, “Mak, ibu, mama!” dan sebagainya. Apakah dokter atau bidan yang membantu persalinan yang mengatur semua ini? Tidak, melainkan al-Wahhb.

Pada sebagian kita ada yang tidak mendapatkan ASI, dan minum susu sapi. Namun kenapa tidak ada efek ke-sapi-an padanya. Dari cara bicaranya sampai persoalan genetik, DNA, kromosom, dan sebagainya. Kasih sayang antara ibu dan anak tetap terjadi, dan bukan antara kita dan induk sapi.
Lalu, kita diberi-Nya pula hidayah akal, dan Islam. Dia-lah yang mendesain otak kita sedemikian rupa. Dia yang memberi kemampuan pada kita untuk bersyahadat. Dia yang memampukan kita beribadah dan belajar agama.

Saat saudara sedang membaca tulisan ini, mungkin di saat yang sama pula ada sebagian orang yang sedang berbuat maksiat. Oleh karena itu, janganlah menganggapnya sebagai hasil usaha saudara sendiri. Tetapi Dia-lah Yang Maha Pemberi, al-Wahhb.

Jadi, diantara karunia yang kita nantikan adalah turunnya rahmat Allah SWT. Dan, semua rahmat inilah yang tercendra oleh indera, dan tembus sampai di lubuk hati kita yang paling dalam. Seorang yang mendapat rahmat yang melimpah, seandai di penjara sesempit apapun, hatinya tetap lapang. Punya atau tidak punya uang, hatinya tetap kaya. Dan bagaimana pun ia dihina, dia tetap mulia.
Kita tidak akan selamat hanya dengan mengandalkan amal, tetapi keselamatan kita ditentukan oleh rahmat dan karunia-Nya, yang diberikan oleh al-Wahhb.

Sumber :  http://nasional.inilah.com

Menyambungkan Tali Silaturrahim Akan Diluaskan Rezekinya Dan Dipanjangkan Umurnya

Image Tali Silaturrahim by Google
Menyambungkan Tali Silaturrahim yang Terputus

keutamaan dari menyambung tali silaturrahim yang begitu beragam. Sebab seorang yang benar-benar menyambung tali silaturrahim adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِيْ إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا.
Orang yang menyambung tali silaturrahim bukanlah orang yang menyambungnya sebagai balasan, namun orang yang benar-benar menyambung tali silaturrahim adalah apabila hubungan kekerabatannya diputus ia terus menyambungnya. (HR. Bukhari 1/559)

Berikut, beberapa keutamannya:
1: Silaturrahim merupakan syiar keimanan kepada Allah ‘azza wa jalla dan hari akhir.
Berkaitan dengan hal ini, ada sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung tali silaturrahim. (HR. Bukhari 6138)

2: Silaturrahim merupakan sebab umur seseorang dipanjangkan dan rizkinya dilapangkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.
Siapa yang suka untuk diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahim. (HR. Bukhari 5986 & Muslim 2557)
Berkaitan dengan penafsiran dipanjangkannya umur orang yang menyambung tali silaturrahim, para ulama memiliki dua penafsiran:
Penafsiran pertama: Maksud dari ditambah atau dipanjangkannya umur adalah bahwasanya Allah ta’ala memberikan keberkahan pada umur, menganugerahkan kekuatan pada diri, dan kejernihan pada akal orang yang menyambung tali silaturrahim. Sehingga kehidupannya penuh dengan amalan-amalan utama yang bermanfaat bagi dirinya di dunia dan di akhirat.
Penafsiran kedua: Bahwa penambahan atau dipanjangkannya umur tersebut diartikan sesuai dengan hakekatnya, yakni umurnya akan benar-benar dipanjangkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Jadi, orang yang menyambung tali silaturrahim, Allah akan menambah panjang umurnya.

3: Silaturrahim salah satu faktor terbesar untuk masuk surga.
Selain dari dua keutamaan yang telah disebutkan, menyambung silaturrahim memiliki keutamaan istimewa, yakni merupakan salah satu sebab penting yang dapat mengantarkan seorang hamba menuju surga.
Dari Abu Ayyub al-Anshori radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seorang laki-laki yang berkata: “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku akan amalan yang dapat memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan diriku dari api neraka.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabda beliau:
تَعْبُدُ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ.
Engkau beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, menegakkan sholat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturrahim. (HR. Bukhari 1396 & Muslim 13)

4: Menyambung tali Silaturrahim merupakan bentuk ketaatan kepada Allah ta’ala.
Allah subahanahu wa ta’ala memuji orang-orang yang mengerjakan ketaatan kepada-Nya, dan salah satu dari ketaatan kepadanya adalah menyambung tali silaturrahim. Dalam surat ar-Ra’du Allah ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوْ اْلأَلْبَابِ. الَّذِيْنَ يُوفُوْنَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلاَ يَنْقُضُوْنَ الْمِيْثَاقَ. وَالَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُوْنَ سُوْءَ الْحِسَابِ.
“Sesungguhnya hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.  Dan orang-orang yang menyambung apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhan-nya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. ar-Ra’du: 19-21)
Begitu mulia orang yang mendapatkan pujian dan sanjungan dari Allah ta’ala, dan begitu celaka orang yang mendapatkan celaan dan cercaan dari-Nya.

5: Allah akan menyambung hubungan dengan orang yang menyambung tali Silaturrahim.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan menyambung hubungan dengan seorang hamba yang menyambung tali silaturrahim. Sebaliknya, Allah mengancam akan memutuskan hubungan dengan orang yang memutuskannya. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut berbunyi (artinya): “Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk-Nya, hingga apabila Dia selesai dari menciptakan mereka, rahim akan berdiri dan berkata: ‘Ini adalah tempat berdiri orang yang berlindung kepada-Mu dari memutuskan tali silaturrahim.’ Allah berfirman: ‘Ya, tidakkah engkau ridha bila Aku menyambung orang yang menyambungmu dan memutuskan orang yang memutuskanmu?’ Rahim berkata: ‘Tentu saja.’ Allah berfirman: ‘Maka, itu menjadi milikmu.’” (HR. Bukhari 5987 & Muslim 2554)

6: Menyambung Silaturrahim mengundang pujian.
Telah disebutkan di atas bahwa akal dan fitrah manusia sejalan dengan perintah untuk menyambung tali silaturrahim dan mencela orang yang memutuskannya. Dari keterangan singkat ini dapat kita ketahui, bahwa orang yang menyambung tali silaturrahim, dia akan mendapat pujian di tengah manusia, sedangkan orang yang memutuskannya akan mendapat celaan dari mereka.
Sekiranya kita melihat ada seorang yang begitu perhatian dengan sanak saudaranya, gemar membantu mereka yang kekurangan dan begitu memiliki hubungan yang baik dan dekat dengan mereka, tentu saja kita akan senang dan sangat setuju dengan apa yang dia lakukan serta memuji perbuatannya tersebut.

7: Terciptanya kedamaian, kecintaan, dan hubungan baik di tengah-tengah keluarga dan karib kerabat.
Dengan diterapkannya syariat menyambung tali silaturrahim di tengah-tengah masyarakat, maka akan terbina kecintaan dan kasih sayang, kedamaian dan ketentraman, sehingga hubungan baik menjadi tersebar luas di tengah-tengah mereka. Bukankah hal ini menjadi cita-cita dan harapan kita semua?

8: Kemuliaan bagi orang-orang yang menyambung tali Silaturrahim.
Orang-orang yang menyambung tali silaturrahim, yang saling cinta dan saling mengasihi, kedudukan mereka akan tinggi, nama mereka akan harum, sehingga mereka termasuk orang yang penting di tengah kaumnya, yang mana hal tersebut akan menjadi perhitungan tersendiri. Tidak ada seseorang yang lancang untuk menimpakan sesuatu yang tidak baik kepada mereka, menzhalimi mereka, sehingga mereka adalah orang-orang yang mulia di tengah kaumnya.
Demikianlah beberapa keutamaan dari menyambung tali silaturrahmi. Sekiranya kita memperhatikan dan mengamati keterangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seputar pembahasan, niscaya akan kita dapati banyak keutamaan-keutamaan yang lainnya.

Segeralah Bersedekah Untuk Membuka Pintu Rezeki

Sedekah mengundang rahmat Allah dan menjadi sebab Allah buka pintu rezeki. Nabi s.a.w. bersabda kepada Zubair bin al-Awwam: “Hai Zubair, ketahuilah bahwa kunci rezeki hamba itu ada di Arasy, yang dikirim oleh Allah azza wajalla kepada setiap hamba sekadar nafkahnya. "Maka siapa yang memperbanyak pemberian kepada orang lain, niscaya Allah memperbanyak juga baginya. Dan siapa yang menyedikitkan, niscaya Allah menyedikitkan juga baginya.” (H.R. Ad-Daruquthni dari Anas r.a)

Sedekah digandakan 700 kali ganda.
Fadhilah bagi orang yang bersedekah amat besar sebagai mana terdapat keterangan di dalam al-Quran dan hadits. Jika kita amati ayat al-Quran berikut, kita akan dapat mengira bahawa sekurang-kurangnya setiap harta yang dikeluarkan ke jalan Allah akan dibalas dengan perkiraan melebihi 700 kalinya. Selain itu, mereka dijanjikan dengan kehidupan yang mudah:
Allah Ta’ala berfirman: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki . Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui” . (Al Baqarah (2) : 261)

Allah Lipat-gandakan Ganjaran orang yang Bersedekah.
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki mahupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

Rezeki dimurahkan Allah s.w.t.
Firman Allah s.w.t.: “Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, pasti akan ditunjuki kepada mereka jalan keluar. Dan diberi rezeki kepada mereka daripada jalan yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi baginya”. (At-Talaq:2-3)

Di dunia, mereka yang bersedekah akan dimurahkan rezeki oleh Allah dalam kehidupannya. Faedah ini dijelaskan oleh Jabir Abdullah katanya: Rasulullah berucap kepada kami, sabdanya: "Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah sebelum kamu mati dan segeralah mengerjakan amal salih sebelum kamu sibuk (dengan yang lain), dan jalinkanlah hubungan di antara kamu dengan Tuhan kamu dengan sentiasa mengingatinya (berzikir) dan banyakkan bersedekah secara bersembunyi atau terang-terangan, niscaya kamu diberi rezeki yang banyak, diberi kemenangan (terhadap musuh) dan digantikan dengan apa yang kamu dermakan itu dengan balasan yang berganda-ganda.” (Hadis riwayat Ibnu Majah)

Keberkahan Dalam Rezeki.
Kekayaan tidak membawa arti tanpa ada keberkahan. Dengan adanya  keberkahan, harta / rezeki yang sedikit akan dirasakan seolah-olah banyak dan mencukupi. Sebaliknya tanpa keberkahan akan dirasakan sempit dan susah meskipun banyak harta.

Kaya Jiwa
Kekayaan bukanlah sesuatu yang harus diidam-idamkan oleh seseorang Islam karena kekayaan bisa membawa kerusakan kepada seseorang sekiranya tidak menurut jalan yang benar. Islam lebih melihat kekayaan dari segi kekayaan jiwa. Hadis riwayat Abu Hurairah r.a.: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Kekayaan itu bukanlah karena mempunyai banyak harta tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa." (Sahih Muslim.)
Dari aspek harta-benda, kekayaan jika disalurkan ke jalan yang benar akan memberi seseorang pahala yang banyak, terutamanya jika digunakan untuk bersedekah.

Berzikir dan Banyak Bersedekah dengan Sembunyi-sembunyi atau Terang-terangan
Hadis berikut ini pula menyeru kita agar rajin bersedekah karena Allah akan memberi kita rezeki dan kesenangan melalui bersedekah. “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, sebelum kamu mati. Bersegeralah melakukan amalan amalan salih sebelum kamu kesibukan dan hubungilah antara kamu dengan Tuhan kamu dengan membanyakkan zikir kamu kepadaNya dan banyaklah bersedekah dengan bersembunyi dan terang-terangan, nanti kamu akan diberi rezeki, ditolong dan diberi kesenangan.” H.R Ibnu Majah.

Hakikatnya amalan memberi tidak akan membuatkan kita jatuh miskin. Kita terlalu banyak disogokkan dengan ekonomi barat yang mengatakan lebih banyak permintaan maka sumber akan berkurang. Sedangkan dalam ekonomi Islam, lebih banyak kita bersyukur maka lebih banyak rezeki hebat yang akan datang bagi menggantikan rezeki yang dibelanjakan pada jalan yang baik.
Memang benar, sedekah bukan hanya pada harta, namun amalan yang paling berat untuk kita banyak lakukan ialah sedekah dari sudut harta kekayaan.
"Sedekah menambahkan harta dan kesejahteraan
Tidak akan pernah berkurang harta yang disedekahkan kecuali ia bertambah… bertambah… bertambah" (HR.At-tirmidzi)

"Siapa yang memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasannya dan baginya pahala yg mulia" (QS. Al-hadiid 57:58)

"Janganlah kamu takut kepada kemiskinan karena membelanjakan harta di jalan Allah" (QS.Al-Baqarah 2:245)

"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sehingga kamu menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap diri sendiri. Dan Allah lah yang Maha Kaya sedangkan kamu orang-orang yang membutuhkan-Nya" (QS.Muhammad :38)

Bersegeralah Bersedekah Sebelum Datang Hari Kiamat
Segeralah kalian bersedekah, karena dikhawatirkan kelak akan terjadi seorang laki-laki pergi ke mana-mana membawa sedekahnya, tetapi dijawab oleh orang yg hendak diberinya sedekah, 'kalaulah kemarin kamu datang, aku terima sedekahmu. Sekarang aku tak butuh lagi terhadap sedekahmu itu.' Akhirnya orang itu pun benar-benar tak mendapat orang yg bersedia menerima sedekahnya itu. (HR.Muslim No.1679)

Sungguh akan datang suatu zaman dimana ada seorang lelaki yg berkeliling menawarkan sedekah berupa emas namun ia tak mendapatkan seorangpun yg sudi mengambilnya, & akan ada seorang lelaki yg diikuti oleh empat puluh wanita yg ingin merasakan kenikmatan bersamanya karena saking sedikitnya jumlah kaum lelaki saat itu & banyaknya jumlah kaum wanita. (HR.Muslim No.1680)

Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk & melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya, tetapi dia tak mendapatkan seorang pun yg bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur Makmur kembali dgn padang-padang rumput & sungai-sungai. (HR.Muslim No.1681)

Tidak akan terjadi hari kiamat hingga harta yg ada pada kalian melimpah ruah, yg akhirnya si pemilik harta merasa sedih karena tak ada seorang pun yg bersedia menerima sedekahnya. Dan orang yg dimintanya untuk menerima sedekahnya menjawab, 'Aku tak membutuhkan sedekah Anda.' (HR.Muslim No.1682)

Kelak bumi akan mengeluarkan semua isi perutnya semisal tiang dari emas & perak lalu akan datang seorang pembunuh seraya berkata, 'Karena benda inilah aku membunuh.' Lalu datang pula orang yg memutuskan tali silaturrahmi seraya berkata, 'Karena benda inilah aku memutuskan tali silaturrahmi.' Lalu datang pula seorang pencuri seraya berkata, 'Karena benda inilah tanganku dipotong.' Kemudian mereka semua meninggalkannya begitu saja & tak mengambilnya sedikitpun. (HR.Muslim No.1683)

Pertolongan Allah
Dan Allah senantiasa memberi pertolongan kepada hambanya selama ia menolong saudaranya (HR.Muslim)
Kita disarankan untuk memperbanyakkan amalan SEDEKAH, karena di dalamnya terdapat banyak rahasia dan antaranya adalah  :
  1. Menyembuhkan berbagai penyakit.
  2. Menjauhkan dari segala macam kesulitan & masalah.
  3. Diselamatkan dari segala keburukan.
  4. Menenangkan hati dan jiwa.
  5. Melapangkan rezeki.
  6. Mempercepat datangnya jodoh
















Membantu Memudahkan Urusan Orang Dalam Kesulitan, Allah akan Memudahkan Urusannya di Dunia dan Akhirat

Image Bantu Urusan by Google
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. "Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat".

Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allâh akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allâh (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman akan turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allâh menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya (dalam meraih derajat yang tinggi-red), maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya.”

Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh:
1. Muslim (no. 2699).
2. Ahmad (II/252, 325).
3. Abu Dâwud (no. 3643).
4. Tirmidzi (no. 1425, 2646, 2945).
5. Ibnu Mâjah (no. 225).
6. Ad-Dârimi (I/99).
7. Ibnu Hibbân (no. 78- Mawâriduzh Zham-ân).
8. Ath-Thayâlisi (no. 2439).
9. Al-Hâkim (I/88-89).
10. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 127).
11. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jâmi’ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/63, no. 44).

MEMBANTU MELAPANGKAN KESUSAHAN Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang maknanya), “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat.”

Karena balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan. Hadits-hadits tentang masalah ini banyak sekali, misalnya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Kurbah (kesempitan) ialah beban berat yang mengakibatkan seseorang sangat menderita dan sedih. Meringankan (at-tanfîs) maksudnya berupaya meringankan beban tersebut dari penderita. Sedangkan at-tafrîj (upaya melepaskan) dengan cara menghilangkan beban penderitaan dari penderita sehingga kesedihan dan kesusahannya sirna. Balasan bagi yang meringankan beban orang lain ialah Allâh akan meringankan kesulitannya. Dan balasan menghilangkan kesulitan adalah Allâh akan menghilangkan kesulitannya.

Seorang Muslim hendaknya berupaya untuk membantu Muslim lainnya. Membantu bisa dengan ilmu, harta, bimbingan, nasehat, saran yang baik, dengan tenaga dan lainnya.

Seorang Muslim hendaknya berupaya menghilangkan kesulitan atau penderitaan Muslim lainnya. Bila seorang Muslim membantu Muslim lainnya dengan ikhlas, maka Allâh Azza wa Jalla akan memberikan balasan terbaik yaitu dilepaskan dari kesulitan terbesar dan terberat yaitu kesulitan pada hari Kiamat. Oleh karena itu, seorang Muslim mestinya tidak bosan membantu sesama Muslim. Semoga Allâh Azza wa Jalla akan menghilangkan kesulitan kita pada hari Kiamat.

Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang artinya : “Dari salah satu kesusahan hari Kiamat.”

Kenapa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersabda, “Dari salah satu kesempitan dunia dan akhirat,” seperti yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan dalam balasan memudahkan urusan dan menutup aib ? Ada yang mengatakan bahwa kurab (kesulitan-kesulitan) yang merupakan kesulitan luar biasa itu tidak menimpa semua manusia di dunia, berbeda dengan kesulitan dan aib yang perlu ditutup, hampir tidak ada seorangpun yang luput. Ada lagi yang mengatakan bahwa kesulitan dunia tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kesulitan akhirat. Karenanya, Allâh Azza wa Jalla menyimpan pahala orang yang meringankan beban orang lain ini untuk meringankan kesulitannya pada hari Kiamat. Ini diperkuat dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“...Allah mengumpulkan manusia dari generasi pertama hingga generasi terakhir pada satu tempat kemudian penyeru memperdengarkan suara kepada mereka, penglihatan dapat meliputi mereka, matahari mendekat ke mereka, dan manusia menanggung kesedihan dan kesempitan yang tidak mampu lagi mereka tahan dan tanggung. Sebagian manusia berkata kepada sebagian lainnya, ‘Tidakkah kalian lihat apa yang terjadi pada kalian? Kenapa kalian tidak melihat orang yang bisa meminta syafa’at untuk kalian kepada Rabb kalian...’” dan seterusnya.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda

Kalian akan dikumpulkan (pada hari Kiamat) dalam keadaan telanjang kaki, telanjang (tidak berpakaian) dan tidak berkhitan.” ‘Aisyah berkata, “Wahai Rasûlullâh! Orang laki-laki dan perempuan akan saling melihat (aurat) yang lain?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Perkaranya lebih dahsyat daripada apa yang mereka inginkan.”

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhumadari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang firman Allâh Azza wa Jalla , yang artinya, " (Yaitu) pada hari (ketika) semua orang bangkit menghadap Rabb seluruh alam.” (Al-Muthaffifiin/83:6), Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

Salah seorang dari mereka berdiri sementara keringatnya sampai separoh kedua telinganya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

Pada hari Kiamat, manusia berkeringat hingga keringat mereka mengalir di bumi sampai tujuh puluh hasta dan mengalir hingga sampai di telinga mereka

Dalam lafazh Muslim,
"Sesungguhnya keringat manusia pada hari Kiamat kelak akan mengalir di bumi sampai tujuh puluh depa atau hasta dan dengan ketinggian mencapai mulut atau telinga mereka."

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Apabila hari Kiamat telah tiba, matahari didekatkan kepada hamba-hamba hingga sebatas satu atau dua mil. Kemudian (panas) matahari membuat mereka berkeringat lalu mereka terendam dalam keringat sesuai dengan perbuatan mereka. Diantara mereka ada yang terendam hingga kedua tumitnya, ada yang terendam hingga kedua lutut, ada yang terendam hingga pinggangnya, dan di antara mereka ada yang terendam sampai ke mulutnya hingga ia tidak bisa bicara.

Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang maknanya, “Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan maka Allâh Azza wa Jalla memberi kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat.”

Ini menunjukkan bahwa pada hari kiamat ada kesulitan. Bahkan Allâh Azza wa Jalla menyebutkan hari kiamat sebagai hari yang sulit bagi orang-orang kafir. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

... Dan itulah hari yang sulit bagi orang-orang kafir. [al-Furqân/25:26]

Memberi kemudahan kepada yang kesulitan (dalam utang) ganjarannya besar. Ini dapat dilakukan dengan dua cara :
  • Memberikan tempo dan kelonggaran waktu sampai ia berkecukupan dan mampu membayar utang. Ini hukumnya wajib, karena Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, "Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih bagimu, jika kamu mengetahui.” [al-Baqarah/2:280]
  • Dengan membebaskan hutangnya jika ia sudah tidak mampu lagi membayar hutangnya.
Kedua perbuatan ini memiliki keutamaan besar.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Dahulu ada seorang pedagang yang selalu memberikan pinjaman kepada manusia. Jika ia melihat orang itu kesulitan membayar hutangnya, ia berkata kepada anak-anaknya, "Bebaskanlah hutangnya, mudah-mudahan Allâh memaafkan kita (dari dosa-dosa)" maka Allâh pun memaafkannya.

Dari Abu Qatâdah Radhiyallahu anhu , Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Siapa ingin diselamatkan oleh Allâh dari kesulitan-kesulitan hari Kiamat, hendaklah ia meringankan orang yang kesulitan (hutang) atau membebaskan hutangnya.

Dari Abu Yasar Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

"Barangsiapa memberi kelonggaran waktu kepada orang yang kesulitan membayar hutang atau menghapus hutangnya, maka Allâh akan menaunginya dalam naungan-Nya."

Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya."

Dalam hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhumadisebutkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“...Dan barangsiapa menolong kebutuhan saudaranya, maka Allâh senantiasa menolong kebutuhannya.”

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menganjurkan agar umat Islam saling menolong dalam kebaikan dan membantu saudara-saudaranya yang membutuhkan bantuan. Allâh Subhanahu wa Ta’alaberfirman, yang artinya, "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allâh, sungguh, Allâh sangat berat siksa-Nya.” [al-Mâidah/5:2]

Tolong menolong telah dilaksanakan dalam kehidupan para salafush shalih. ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu sering mendatangi para janda dan mengambilkan air untuk mereka pada malam hari. Pada suatu malam, ‘Umar bin al-Khaththab dilihat oleh Thalhah Radhiyallahu anhu masuk ke rumah seorang wanita kemudian Thalhah Radhiyallahu anhu masuk ke rumah wanita itu pada siang harinya, ternyata wanita itu wanita tua, buta, dan lumpuh. Thalhah Radhiyallahu anhu bertanya, “Apa yang diperbuat laki-laki tadi malam terhadapmu?” Wanita itu menjawab, “Sudah lama orang itu datang kepadaku dengan membawa sesuatu yang bermanfaat bagiku dan mengeluarkanku dari kesulitan.” Thalhah Radhiyallahu anhu berkata, “Semoga ibumu selamat –kalimat nada heran-, hai Thalhah, kenapa engkau menyelidiki aurat-aurat ‘Umar ?”. Maksudnya, kenapa aku tidak mengikuti jejak Umar Radhiyallahu anhu dalam kebaikan. Wallaahu A’lam.

Mujahid rahimahullah berkata, “Aku pernah menemani Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma diperjalanan untuk melayaninya, namun justru ia yang melayaniku.”

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Kami bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di perjalanan. Di antara kami ada yang berpuasa dan ada yang tidak berpuasa. Di hari yang panas kami berhenti di suatu tempat. Orang yang paling terlindung dari panas adalah pemilik pakaian dan ada di antara kami ada yang berlindung diri dari terik matahari dengan tangannya. Orang-orang yang berpuasa pun jatuh, sedang orang-orang yang tidak berpuasa tetap berdiri. Mereka memasang kemah dan memberi minum kepada para pengendara kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari ini, orang-orang yang tidak berpuasa pergi dengan membawa pahala.” 

MENUTUPI AIB
Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang artinya, “Dan barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim maka Allâh Azza wa Jalla menutupnya di dunia dan akhirat.”

Banyak nash-nash yang semakna dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Diriwayatkan dari salah seorang ulama Salaf, ia berkata, “Aku pernah berjumpa dengan kaum yang tidak memiliki aib kemudian mereka menyebutkan aib-aib orang lain, akhirnya manusia menyebut aib-aib kaum ini. Aku juga pernah bertemu kaum yang mempunyai sejumlah aib namun mereka menjaga aib orang lain, akhirnya aib-aib mereka dilupakan.

Perkataan di atas diperkuat oleh hadits Abu Burdah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Wahai orang-orang yang beriman dengan lidahnya, tetapi iman tidak masuk ke hatinya, jangan kalian menggunjing kaum Muslimin dan jangan mencari aib-aib mereka ! Karena barangsiapa mencari aib-aib mereka maka Allâh akan mencari-cari aibnya dan barangsiapa aibnya dicari-cari oleh Allâh maka Allâh akan mempermalukannya (meskipun ia berada) di rumah."

Terkait dengan perbuatan maksiat, manusia terbagi dalam dua kelompok :
  • Orang baik yang kebaikan dan ketaatannya sudah diketahui orang banyak. Dia tidak dikenal sebagai pelaku maksiat. Orang seperti ini, jika melakukan kesalahan atau khilaf, maka kekeliruannya tidak boleh dibongkar dan tidak boleh diperbincangkan karena itu termasuk ghibah (menggunjing) yang diharamkan. Allâh Subhanahu wa Ta’alaberfirman, yang artinya, "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allâh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [An-Nûr/24:19]

    Maksud ayat ini ialah menyebarkan perbuatan keji orang mukmin yang menyembunyikan kesalahannya atau menyebarkan berita keji yang dituduhkan kepada kaum Muslimin padahal mereka tidak melakukannya sama sekali, seperti kisah dusta yang menimpa ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma.

    Sebagai orang-orang shalih mengingatkan para pelaku amar ma'ruf nahi mungkar agar merahasiakan para pelaku maksiat. Begitu juga apabila ada yang datang hendak bertaubat, menyesal dan mengaku telah berbuat maksiat berat namun ia tidak bisa menjelaskannya dengan rinci, maka orang seperti ini, tidak perlu diminta memberi penjelasan secara rinci dan dia diminta menutup aib dirinya, seperti yang diperintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ma’iz dan wanita al-Ghamidiah (yang telah mengaku berzina). Dan sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak minta penjelasan secara rinci kepada orang yang mengatakan, “Aku telah berbuat maksiat maka jatuhkan hukuman kepadaku.”

    Anjuran menutup aib seorang Muslim yang berbuat kesalahan tidak berarti membiarkan kesalahannya. Bagi yang mengetahuinya tetap memiliki kewajiban untuk mengingkari kesalahan tersebut dan wajib untuk menutup aibnya.

    Oleh karena itu, setiap Muslim dan Muslimah wajib menutup dirinya apabila dia salah, segera bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla dan tidak menceritakannya kepada orang lain.


  • Orang yang sudah dikenal sebagai pelaku maksiat dan dia melakukannya terang-terangan, tidak perduli dengan perbuatan maksiatnya dan komentar miring masyarakat terhadap dirinya. Orang seperti ini, tidak apa dibuka aibnya, seperti yang ditegaskan oleh al-Hasan al-Bashri rahimahullah dan yang lainnya. Bahkan orang seperti ini harus diselidiki keadaannya untuk dijatuhi hudûd (hukuman had). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    Hai Unais! Pergilah ke istri fulan ini. Jika ia mengaku (berzina), maka rajamlah ia !

    Orang seperti itu tidak boleh dibela jika tertangkap kendati beritanya belum sampai ke penguasa Ia harus dibiarkan hingga mendapatkan hukuman agar berhenti dari kejahatannya dan membuat jera yang lainnya.
    Imam Mâlik rahimahullah berkata, “Orang yang tidak dikenal suka menyakiti orang lain lalu menyakiti karena kesalahan maka orang seperti ini tidak apa-apa dibela selagi informasinya belum terdengar penguasa. Sedangkan yang terkenal suka berbuat jahat atau kerusakan, maka aku tidak senang kalau ia dibela siapa pun. Orang ini harus dibiarkan hingga hukuman dijatuhkan kepadanya.” Perkatan ini dikisahkan oleh Ibnul Mundzir dan yang lainnya.

    Begitu juga pelaku bid’ah yang terus menerus dalam perbuatan bid’ahnya dan mengajak orang kepada bid’ahnya maka kita boleh menjelaskan kepada umat Islam tentang orang itu. Bahkan wajib bagi penguasa dan Ulama untuk menjelaskan kesalahannya dan bid’ahnya agar umat tidak tersesat dan hal ini sebagai penjagaan terhadap agama Islam.
Back to top